Cemari Bengawan Solo: 34 Industri Disanksi, 4 Diproses Hukum

September 9, 2021

Pencemaran Bengawan Solo telah berdampak pada pasokan air bersih di Kota Solo. (M. IHSAN/RADAR SOLO)

SOLO, RAKYATJATENG – Sebanyak 63 industri di eks Karesidenan Surakarta masuk dalam pengawasan karena mencemari Sungai Bengawan Solo. Kasus ini terjadi sejak Juli 2020 hingga awal September 2021.

Mereka diminta memperbaiki intalasi pengolahan air limbah (IPAL). Sementara untuk industri kecil dan menengah (IKM) akan difasilitasi dengan pembuatan IPAL komunal untuk mengolah limbah mereka.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah (DLHK) Widi Hartanto mengatakan, pencemaran Sungai Bengawan Solo tak hanya dipicu dari limbah alkohol saja, namun juga diperparah dari limbah industri tekstil dan limbah rumah tangga. Sebab itu, penanganan harus dilakukan dengan berbagai cara, mengingat pencemaran itu tidak datang dari satu aspek saja.

“Biasanya limbah-limbah ini masuk melalui anak sungai yang bermuara ke Bengawan Solo,” terang Widi usai rakor penanganan limbah Sungai Bengawan Solo bersama jajaran dinas lingkungan hidup dan dinas terkait lainnya se-Jawa Tengah di Solo, Rabu kemarin (8/9).

Berdasarkan catatan penindakan pelanggaran dan penegakan hukum, ada 63 industri besar dan menengah yang masuk pengawasan terkait pencemaran lingkungan dan pengelolahan limbah. Sebanyak 34 industri di antaranya sudah disanksi dan memperbaiki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Kemudian empat di antaranya naik ke penyidikan karena pelanggaran berat.

“Ini di eks Karesidenan Surakarta saja. Proses penindakannya mulai dari teguran, tertulis, hingga intervensi pemerintah. Yang masih bandel kami koordinasikan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutaan untuk penegakan lebih lanjut,” terang Widi.

Selain limbah tekstil, pihaknya juga masih menangani pengelolaan limbah industri kecil dan menengah (IKM). Salah satunya penanganan 92 IKM penghasil alkohol di Polokarto, Sukoharjo. Maupun IKM-IKM lainnya di berbagai wilayah lain.

Komentar

VIDEO TERKINI