Harga Tembakau Rajangan Anjlok, Ini Penyebabnya

Agustus 3, 2021

MERUGI: Petani tembakau Boyolali siap panen. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

BOYOLALI, RAKYATJATENG – Perubahan musim yang tidak pasti membuat harga tembakau rajangan anjlok. Imbasnya, petani tembakau rajangan di Selo, Cepogo, Ampel, Boyolali Kota hingga Mojosongo, Kabupaten Boyolali, merugi. Bahkan, panen tahun ini tidak mampu menutup modal.

Petani tembakau Tegalwire, Kelurahan/Kecamatan Mojosongo, Suwarno mengatakan, harga panen jatuh karena dampak anomali musim. Perubahan cuaca yang tidak tentu membuat kualitas tembakau turun. Alhasil harga juga ikut anjlok.

”Yah, sayang sekali, panen kali ini rugi. Memang ini sudah laku, tapi tetap rugi tahun ini. Nggak bisa balik modal atau nutup biaya tanam,” jelasnya pada Senin (2/8).

Suwarno kini membuang pucuk tanaman agar sari makanan masuk ke daun yang sudah ada. Tanaman tembakau seluas kurang dari seribu meter persegi tersebut hanya laku Rp 1 juta. Jauh dari keuntungan yang bisa didapatnya tahun sebelumnya.

”Ya itu, saya tidak perlu bawa pulang maupun merajang tembakau. Langsung saya berikan saja (Jual,red). Karena hasil panen kurang bagus,” katanya.

Saat awal tanam, tembakau kurang air. Sehingga pertumbuhan tidak maksimal. Kemudian saat memasuki pertumbuhan, justru diguyur hujan terus menerus. Jelang panen pembeli justru berkurang. Padahal biasanya penebas banyak yang datang ke ladang untuk membeli. Namun, tahun ini sepi pembeli.

Hal serupa dialami Dalyono penebas tembakau asal Dukuh Tegalgawak, Kelurahan/Kecamatan Mojosongo. Harga tebasan tembakau di ladang kali ini tidak sebaik panen tahun lalu. Tidak hanya itu, banyak tembakau yang mati akibat perubahan musim yang tidak tentu.

”Tahun lalu harga tebasan tembakau bisa mencapai Rp 10 juta- Rp 15 juta untuk luasan lahan 3 ribu meter persegi. Namun, panen kali ini maksimal hanya Rp 7,5 juta untuk luasan yang sama,” katanya.

Komentar

VIDEO TERKINI