Begini Pengalaman Mahasiswa Unisbank Mengajar di Sekolah Inklusi

Juni 8, 2021

SEMARANG, RAKYATJATENG – Air mata gadis manis berkerudung itu terus meleleh. Setiap kata diucapkan dengan suara bergetar. Sembari mengatur napas, sesekali ujung jarinya menyeka air mata.

“Saya salah satu dari bagian Kampus Mengajar angkatan 1 tahun 2021, dan kebetulan ditempatkan di SD Suryo Bimo Kresno Semarang. Saya juga baru tahu sekolah itu setelah sudah lolos (seleksi Kampus Mengajar),” kata Tasya Tsania Anaraki, mengawali cerita, Senin (7/6/2021).

Tasya merupakan mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Ilmu Budaya (FBIB) Universitas Stikubank (Unisbank) Semarang. Selama dua bulan lebih, dia menjadi guru di sela mengikuti perkuliahan secara daring.

“Saya baru tahu kalau itu ternyata adalah sekolah inklusi. Saya juga baru mengenal istilah itu (inklusi), ternyata adalah sekolah di mana di dalamnya itu ada anak-anak yang berkebutuhan khusus dan ada juga anak yang normal tetapi memiliki keterlambatan belajar. Jadi dia tidak bisa disekolahkan di sekolah biasanya,” katanya.

“Di sini anak-anaknya membutuhkan perhatian yang lebih. Kalau untuk jumlah siswa itu ada semuanya mulai kelas 1-6, ya total sekira 60 siswa. Dan jumlah gurunya hanya ada 5 orang, jadi ada guru yang megang dua kelas. Dan semua guru itu cewek semua, enggak ada cowoknya,” imbuhnya.

Kebetulan, mahasiswa Kampus Mengajar kelompoknya juga isinya cewek semua. Sehingga di sekolah tersebut benar-benar hanya cewek semua. Satu-satunya cowok hanya penjaga sekolah saja.

Dua bulan mengajar di sekolah inklusi, banyak pengalaman yang diserap. Kesabaran menjadi kata kunci utama untuk menyampaikan pendidikan anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Berbeda saat Tasya menjadi tenaga bagi anak-anak yang ingin mendapat tambahan pelajaran Bahasa Inggris. Biasanya dia memberikan les kepada anak-anak.

Komentar

VIDEO TERKINI