Gelontorkan Puluhan Miliaran untuk Kebun Raya Indrokilo Boyolali

Juni 6, 2021

Kawasan Kebun Raya Indrokilo Boyolali yang menjadi tempat konservasi sekaligus wisata edukasi. (DISKOMINFO BOYOLALI FOR RADAR SOLO)

BOYOLALI, RAKYATJATENG – Pemkab Boyolali dikenal kaya terobosan di beragam bidang. Di antaranya menjadikan lahan seluas 8,9 hektare sebagai wadah konservasi sekaligus wisata edukasi.

Miliaran rupiah tak ragu digelontorkan untuk mengoptimalkan Kebun Raya Indrokilo Boyolali (KRIB) sebagai ruang terbuka hijau (RTH) multifungsi.

Pengelolaan KRIB mulai difokuskan sejak masa Bupati Seno Samodro (2014-2019) dan diteruskan hingga kini. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lusia Dyah S. mengatakan, KRIB tengah digodok menjadi wisata edukasi alam berbasis digital.

Sejak 2018, Pemkab Boyolali telah menggelontorkan hampir Rp 40 miliar untuk pengelolaan KRIB.

“Pengelolaan KRIB dilakukan UPT di bawah kami (DLH). KRIB kami kembangkan untuk konservasi keanekaragaman hayati, edukasi, dan wisata alam,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Koleksi KRIB terdiri dari tanaman sebanyak 1.662 spesimen, 356 spesies, 259 marga, dan 103 suku.

Selain itu, ada tujuh tematik tanaman, mulai dari buah lokal, bambu, paku-pakuan, obat-obatan pangkas, taman kehormatan, dan taman konservasi dan air. Tanaman langka seperti mundu, duku, dan lainnya ikut dilestarikan.

Selain lahan konservasi, KRIB menjadi tempat edukasi, penelitian, wisata, dan jasa lingkungan. Termasuk menjadi habitat berbagai jenis burung, kupu-kupu, dan hewan lainnya.

Murid taman kanak-kanak (TK) hingga mahasiswa dapat memanfaatkan KRIB untuk menambah wawasan tentang keanekaragaman hayati. “Saat ini belum dikenakan tarif masuk. Kami menyediakan jasa peminjaman sepeda onthel dengan tarif Rp 5 ribu per jam. Karena memang kendaraan bermotor tidak boleh masuk ke area KRIB,” terang Lusia.

Di KRIB, pengunjung diedukasi untuk mengurangi sampah plastik. Mereka diminta membawa alat minum tumbler yang lebih ramah lingkungan.

Di masa pandemi, KRIB membatasi kunjungan dengan membaginya dalam tiga sif. Per sif maksimal 200 orang. Pengunjung wajib mengenakan masker, membawa hand sanitizer, sedangkan pengelola KRIB menyediakan tempat cuci tangan menggunakan sabun. “Kami sudah siap dengan kondisi new normal,” tuturnya.

Lebih lanjut diterangkan Lusia, pengembangan KRIB semakin memantapkan Boyolali menjadi tempat wisata edukasi alam berbasis teknologi. Di antaranya mengintegrasikan data dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Rintisan ini menjadi branding baru yang digaungkan Boyolali.

“Keberadaan KRIB diharapkan tak hanya menjadi pelestarian lingkungan. Namun, juga mem-branding Boyolali sebagai daerah ramah lingkungan,” ucap dia.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Boyolali Susilo Hartono menjelaskan, pengembangan pariwisata berbasis digital didukung sport tourism dan pemanfaatan kekayaan alam. “Promosi juga kami lakukan secara online,” katanya.

Sejumlah objek wisata yang dioptimalkan yakni air terjun Semuncar dan Bendungan Sipendok. Susiloa berkoordinasi dengan dengan Balai Taman Nasional Gunung (BTNG) Merapi dan Merbabu guna memetakan potensi wisata dan tantangannya. (rs/rgl/per/JPR/JPC)

Komentar

VIDEO TERKINI