Pemprov Jateng Luncurkan Care Center Jo Kawin Bocah

Mei 30, 2021

Dewi mengakui adanya perubahan regulasi mengenai batas minimum usia yang diperbolehkan menikah menjadi 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan melalui Undang-Undang (UU) Nomor 16 tahun 2019 tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Ini seharusnya dapat mencegah perkawinan anak.

Namun kenyataannya, pada 2020 ada 12.972 anak yang menikah. Meliputi 1.671 laki-laki dan 11.301 perempuan. Jumlah itu meningkat dibandingkan 2019 yang tercatat 2.049 anak.

”Ini di antaranya karena sejak batas minimal usia menikah dinaikkan menjadi 19 tahun, permohonan dispensasi kawin di Pengadilan Agama (PA) meningkat drastis. Tahun ini, dari Januari sampai April ada 4.472 anak telah mengajukan dispensasi kawin dengan laki-laki 582 anak dan 3.890 perempuan,” bebernya.

Diakui, Peraturan Mahkamah Agung (PMA) Nomor 5 Tahun 2019 tentang Pedoman Mengadili Permohonan Dispensasi Kawin memberi peluang terjadinya pernikahan bagi seseorang yang belum berusia 19 tahun. Sebab, kondisi khusus atau situasi yang mendesak.

Sayangnya, hal itu sering menjadi celah terjadinya perkawinan anak, meski regulasi itu, sebenarnya lebih ketat, karena mengatur jika permohonan dispensasi harus disertai rekomendasi dari tenaga profesional, seperti psikiater, dokter, psikolog, pekerja sosial profesional, P2TP2A, Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), atau Komisi Perlindungan Anak.

Agar Jo Kawin Bocah dapat semakin terarah dan sinergis, dalam implementasinya perlu wadah layanan yang lebih terstruktur dan sistematis. Dalam mendekatkan akses layanan pencegahan dan penanganan perkawinan anak bagi masyarakat.

”Atas dasar itu, kami berinisiatif membentuk care center. Bertujuan merespons perkawinan anak yang banyak terjadi di Jateng. Care center akan menyelenggarakan fungsi pengaduan, tindak lanjut pengaduan dan konsultasi, serta rujukan dengan melibatkan unsur-unsur dalam pentahelix,” jelasnya.

Komentar

VIDEO TERKINI