3.142 Anak di Semarang Alami Stunting, Kecamatan Semarang Utara Paling Tinggi

April 26, 2021

SEMARANG, RAKYATJATENG – Angka kekurangan gizi pada anak atau stunting di Kota Semarang ternyata masih sangat tinggi.

Dari data yang dimiliki Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk KB) Kota Semarang mencatat ada 3 ribuan anak yang masih menderita stunting.

Status gizi buruk pada ibu hamil dan bayi merupakan faktor utama yang menyebabkan anak balita mengalami stunting. Begitu pula setelah lahir, 1.000 hari pertama kehiduan (0-2 tahun) adalah waktu yang sangat krusial untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

“Kasus ini terjadi karena kurangnya pengetahuan orang tua untuk memenuhi gizi anak sejak dalam kandungan, dan sampai usia emas,” kata Kepala Disdalduk KB Kota Semarang Gurun Risyadmoko, dikutip dari Jawa Pos Radar Semarang.

Dari data yang dimiliki Gurun, tahun ini masih ada 3.142 anak yang menderita stunting dari jumlah balita yang ada di angka 97.194 anak.

Kecamatan Semarang Utara menjadi wilayah penyumbang angka stunting yang paling tinggi, yakni 633 anak.

Disusul dengan Kecamatan Banyumanik 330 anak, serta Kecamatan Pedurungan 314 anak.

Wilayah dengan angka stunting paling rendah ada di Kecamatan Gayamsari dengan jumlah 43 anak, disusul Kecamatan Tugu 60 anak, Semarang Tengah 87 anak, dan Kecamatan Gajahmungkur 89 anak, serta Kecamatan Candisari 43 anak.

Gurun menjelaskan, faktor lainnya adalah tingginya angka pernikahan dini juga menjadi pemicu terjadinya kasus ini. Meskipun di angka 3 ribuan, angka ini bisa dibilang kecil dibandingkan jumlah penduduk di Kota Semarang.

“Usia di bawah 21 tahun misalnya, kalau menikah secara reproduksi belum siap, bisa juga secara ekonomi yang belum mapan, sehingga gizi dan pola asuhnya terbaikan,” bebernya.

Komentar

VIDEO TERKINI