Warga di Sukoharjo Gugat PDAM dan Bupati, Ajukan Ganti Rugi Rp 20 Miliar

Oktober 5, 2020
Belum ada gambar

Bachrudin membeberkan, bila disasumsikan konsumsi air bersih per jiwa per hari adalah 90 liter. Jumlah jiwa 573 sama dengan konsumsi air 51.570 liter per hari. Lalu, usaha tahu dan tempe lima orang sama dengan konsumsi air 25.000 liter per hari.

Kemudian warung makan sembilan orang sama dengan konsumsi air 81 liter per hari. Belum lagi usaha laundry pakaian dua orang sama dengan konsumsi air 540 liter per hari. “Jadi totalnya 77.191 liter per hari. Jika dikalikan 30 hari sama dengan 2.315.730 liter per bulan,” paparnya.

Pada 2019 sumur warga sudah mengalami kekeringan selama enam bulan. Lalu, pada 2020 ini sudah dialami selama sembilan bulan. Bila dihitung sejak 2019 hingga 2020 warga sudah mengalami 15 bulan kekeringan.

“Kerugian hilangnya air bersih adalah 2.315.730 liter dikalikan 15 bulan sama dengan 34.735.950 liter atau sekitar 34.736 meter kubik. Sedangkan harga 1 meter kubik air adalah Rp 41.600 dikalikan 34.736 meter kubik. Sama dengan Rp 1.445.017.600. Jadi nilai kerugian materiil atas hilangnya air bersih adalah Rp 1,4 miliar lebih,” katanya.

Sedangkan, masih ada kerugian materiil, khususnya bagi pengusaha tahu dan tempe. Maka para penggugat menuntut ganti rugi usaha mereka. Yakni, kerugian bersih Rp 300 ribu per pengusaha per hari. Dikalikan 30 hari dikalikan 15 bulan sama dengan Rp 135 juta. Lalu dikalikan lima orang pengusaha. Total sudah Rp 675 juta.

Selain itu, akibat kekeringan dan hilangnya sumber air bersih ini warga kesulitan mandi karena cadangan air terbatas, termasuk urusan mencuci pakaian dan memasak. Lebih parah lagi, harga jual tanah juga anjlok karena sulitnya akses air bersih tadi.

Komentar

VIDEO TERKINI