Pilkada Sukoharjo: Etik-Agus 1, Joko-Wiwaha 2

September 25, 2020
Belum ada gambar

SUKOHARJO, RAKYATJATENG – Pengundian dan penetapan nomor urut pasangan calon (paslon) bupati-wakil bupati Sukoharjo di Hotel Tosan, Solo Baru, Kecamatan Grogol berjalan lancar, Kamis (24/9). Masing-masing paslon menyebut nomor urut mereka merupakan keberuntungan.

Teknis pengundian nomor urut, paslon yang datang lebih awal mendapatkan kesempatan mengambil nomor undian dengan angka 1-10. Berlanjut paslon yang tiba berikutnya.

Ketika mendapatkan nomor undian lebih kecil, paslon yang bersangkutan berhak mengambil lebih dahulu undian nomor urut. “Ini supaya fair saja,” terang Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sukoharjo Nuril Huda.

Pengambilan undian nomor urut dilakukan oleh calon wakil bupati (cawabup). Karena datang lebih awal, cawabup Wiwaha Aji Santosa mendapatkan kesempatan pertama mengambil nomor undian. Dia memperoleh nomor 6, sedangkan cawabup lainnya, Agus Santosa yang datang belakangan mendapatkan nomor undian 1, sehingga angka yang terkecil berkesempatan lebih dulu mengambil nomor urut.

Nah, sekarang giliran calon bupati mengambil undian nomor urut. Kesempatan pertama Etik Suryani disusul Joko Santosa yang didampingi cawabup masing-masing. Hasilnya, Etik Suryani-Agus Santosa (EA) mendapatkan nomor urut 1 dan Joko Santosa-Wiwaha Aji Santosa (Joswi) nomor urut 2.

Menurut Etik, angka 1 merupakan harapan untuk melangkah maju menuju Sukoharjo makin makmur. Pernyataan Etik dipertegas Ketua DPC PDI Perjuangan Wardoyo Wijaya bahwa nomor 1 adalah angka kemenangan.

“Angka nomor 1 adalah juara. Nomor 1 adalah yang memenangkan pertarungan. Nomor 1 pasti yang terbaik,” ungkap Wardoyo.

Tak kalah percaya diri, Joko Santosa memaknai angka 2 adalah 2 Santosa. Hal ini merujuk nama keduanya sama-sama memakai Santosa. “Ya nomor berapa pun, yang penting menang. Nomor dua itu dua santosa, kita sama-sama santosa. Yang pasti simbol 2 jari adalah victory, yang artinya kemenangan,” bebernya.

Sementara itu, Ketua KPU Sukoharjo Nuril Huda mengakui, rapat pleno pengundian dan penetapan nomor urut paslon bupati-wakil bupati Sukoharjo sedikit molor dari jadwal. Itu disebabkan perubahan regulasi.

Sebelumnya, KPU Sukoharjo mengacu Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 10, terutama pasal 9, terkait siapa saja yang diundang dalam pengundian serta penetapan nomor urut.

Namun, pada Kamis (24/9) sekitar pukul 01.00, KPU Sukoharjo menerima PKPU Nomor 13 tentang perubahan dari PKPU Nomor. Pada pasal 55 diatur, peserta rapat pleno terbuka pengundian dan penetapan nomor urut hanya pasangan calon, penghubung, dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) maksimal dua orang. “Sehingga KPU Sukoharjo harus berkoordinasi dengan semua pihak, khususnya tamu undangan. Jadi tadi acara agak tertunda,” terang dia. (rs/kwl/per/JPR/JPC)

Komentar

VIDEO TERKINI