Ini Strategi Pariwisata Jateng Bangkit di Tengah Pandemi Covid-19

September 19, 2020
Belum ada gambar

SEMARANG, RAKYATJATENG – Pandemi virus corona (Covid-19) berdampak di semua bidang dan aspek, termasuk sektor pariwisata.

Sekretaris Komisi B DPRD Jateng, Muhammad Ngainirrichadl menjelaskan bahwa virus Covid-19 telah mengakibatkan berbagai sektor usaha terkena dampaknya. Termasuk sektor pariwisata di Jateng yang mengalami keterpurukan, khususnya bagi para pelaku usaha di bidang ini pendapatannya turun drastis.

Hal ini juga berdampak pada masyarakat, diantaranya pedagang di sekitar objek wisata dan tour travel.

”Dampaknya menjadikan kita berupaya di era adaptasi kebiasaan baru ini untuk membuka kembali peluang pariwisata dengan konsep baru. Konsep itu, yang semula refresing saja, kini dengan memasukkan wisata keselamatan. Juga wisata edukasi,” jelas politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dalam Diskusi Prime Topic yang digelar MNC Trijaya FM Semarang, di Gravity Indoor Trampolin Park Red Rabbit Resto Semarang, Kamis (17/9/2020).

Diskusi ini mengambil tema Mengembangkan Paradigma Pariwisata. Sejumlah narasumber hadir, di antaranya Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jateng Sinoeng N Rachmadi dan Dosen FEB Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Eko Suseno HRM.

Kepala Disporapar Jateng, Sinoeng N Rachmadi menjelaskan, pariwisata di era adaptasi kebiasaan baru ini, harus ada upaya bagaimana mengembangkan sektor ini dengan mengatasi krisis kecemasan dan kepercayaan masyarakat.

”Para pelaku pariwisata harus menghilangkan kecemasan, dengan memberi rasa percaya dan nyaman saat masyarakat berkunjung. Diantaranya, dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, menyemprot disinfektan, dan selalu menerapkan kebersihan. Juga aman dan tidak uyel-uyelan. Para pengelola tempat wisata harus bisa merespon dengan cepat itu,” katanya.

Saat ini menurutnya, harus ada new style (gaya baru), yakni dengan wisata alam (open space). Sebab, konsep wisata di alam terbuka lebih aman, ketimbang di tempat yang tertutup.

Sedangkan strategi yang tepat membuat perencanaan di sektor pariwisata dengan cara lintas sektor. ”Pariwisata bisa bangkit dengan kolaborasi dan sinergi. Contoh terobosan itu adalah dengan membuka wisata-wisata lokal dengan harga terjangkau dan juga penerapan untuk hidup sehat dan menerapkan protokol kesehatan pastinya,” jelasnya.

Saat ini dari 690 objek wisata di Jateng, katanya, ada 424 atau 60 persen objek wisata yang telah dibuka dan 56 sedang simulasi ijin buka kembali. Intinya, dalam perkembangannya di era adaptasi kebiasaan baru ini, butuh peran edukasi bagaimana semua pihak berperan .

Dosen FEB UKSW Salatiga, Eko Suseno HRM mengatakan, era adaptasi kebiasaan baru memunculkan kreativitas di masyarakat.

”Kita jangan terjebak, tapi buka paradigma baru untuk survival. Saat ini, jika masyarakat ingin berlibur atau piknik kalau belum bisa ke luar kota, maka destinasi wisata lokal menjadi jujukan yang tepat. Pelakunya untuk menyiapkan tempat wisata yang aman dan nyaman untuk mengatasi krisis kecemasan dan kepercayaan,” paparnya. (Sen)

Komentar

VIDEO TERKINI