Kisah Mbah Khotim, Penerima Bantuan Modal dari Presiden dan Walikota Semarang

Agustus 18, 2020
Belum ada gambar

Setelah berputar-putar di daerah Jatingaleh sekitar 30 menit, Mbah Khotim sempat bertanya di mana rumah wanita tersebut. Sampai akhirnya ia diturunkan di depan Kelurahan Jatingaleh. Semua dagangan dan dompet yang berisi uang hasil jualan dibawa wanita tersebut dengan dalih agar tidak jatuh.

“Setelah diturunkan di depan kelurahan, dia bilang kalau mau ambil kunci di rumah ibunya. Saya baru sadar dompet dan dagangan saya dibawa sama embak-nya itu,” ceritanya.

Seingat Mbah Khotim, pelaku memakai kaos putih, celana jins, bertubuh gempal, serta berusia relatif muda. Pelaku yang mengendarai motor matic warna hitam itu kemudian meninggalkan Mbah Khotim.

“Saat turun masih nggak curiga, saya sempat tunggu sampai satu jam. Dan berharap akan kembali, namun ternyata tidak, dan baru sadar kalau saya diapusi (ditipu, Red),” katanya sedih.

Karena dompet hasil jualan juga dibawa, Mbah Khotim hanya bisa pasrah dan meratapi nasib sialnya di usia senja. Akhirnya, ia memilih pulang jalan kaki, padahal jarak antara rumah dan kantor Kelurahan Jatingaleh cukup jauh.

Dalam hati ia juga sedih dan bingung karena tidak bisa membayar uang setoran jajan yang diambil dari tetangganya.

“Di dompet ada uang Rp 400 ribu, itu hasil jualan beberapa hari. Kalau jumlah dagangan hari itu sekitar Rp 50 ribu. Pulangnya saya jalan pelan-pelan, untuk bisa sampai rumah karena memang tidak ada uang untuk naik angkot,” ucap nenek yang hidup tanpa anak ini.

Ia mengaku, selama 30 tahun berjualan jajanan, sudah dua kali ditipu. Sepuluh tahun lalu juga sempat ditipu pembeli yang membayarnya dengan uang palsu. “Kalau sehari-hari bisa mendapat Rp 30 ribu, kalau ramai bisa Rp 50 ribu. Setiap hari saya berjualan mulai pukul 07.00 sampai 13.00,” kata nenek yang tinggal bersama adiknya ini.

Komentar

VIDEO TERKINI