17 Desa di Sukoharjo Rawan Kekeringan, BDPD Mulai Dropping Air

Agustus 3, 2020

SUKOHARJO, RAKYATJATENG – Kekeringan sudah mengintai wilayah Sukoharjo bagian selatan, khususnya Kecamatan Tawangsari dan Bulu. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, bahkan sudah melakukan dropping air bersih di kawasan tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukoharjo Sri Maryanto mengatakan, wilayah Sukoharjo selatan berpotensi terdampak kekeringan. Sejak akhir Juli sampai awal Agustus ini sudah ada permintaan bantuan air bersih.

”Sudah ada permintaan dari warga di Watulumbung RT 2 RW 10, Desa Watubonang, Kecamatan Tawangsari. BPBD sudah dropping air ke wilayah tersebut, tiga tangki kapasitas 4.000 liter,” kata Sri Maryanto, kemarin (2/8).

Kemudian, ada lagi permintaan dari Desa Puron, Kecamatan Bulu. Di mana sumur-sumur di desa itu sudah mulai mengering. Setidaknya dua tangki air kapasitas 4.000 liter langsung didistribusikan.

”Di Tegalmulyo RT 1 RW 5 ada 15 K, terdiri dari 45 jiwa dengan dua titik dropping air. Dan di RT 2 RW 5 ada 50 KK, 200 jiwa ada 5 titik dropping air,” imbuhnya.

Dia menyebut, setidaknya ada tiga kecamatan yang rawan kekeringan. Yakni Kecamatan Bulu, Weru, dan Tawangsari. Sedangkan desa yang terdampak terdapat 17 desa. Terdiri dari 12 desa di Weru, Bulu tiga desa, dan Tawangsari dua desa. Kekeringan terjadi karena durasi musim kemarau lama dan panjang.

”Karena kemaraunya panjang, jadi pamsimas tidak cukup melayani kebutuhan masyarakat,” terangnya.

Idealnya masyarakat di wilayah selatan membuat penampungan air hujan. Sehingga, pada musim kemarau panjang bisa memanen air hujan. ”Kalau bikin sumur belum bisa, karena memang debit airnya yang kecil. Tidak memenuhi syarat,” ujarnya.

Komentar