Tarif Tertinggi Rapid Test Rp 150 Ribu, Begini Respons Masyarakat

Juli 9, 2020
Belum ada gambar

“Karena gara-gara rapid test memang bikin pusing ya. Sampai sempat dikucilkan warga dan harus isolasi mandiri. Dengan harga sekarang Rp 150 ribu, menurut saya sih semestinya gratis ya karena kan ini sudah tanggap darurat ya. Yang gratis pun menolak kok untuk di-rapid,” tukas Indah.

“Sebab sekali sudah di-rapid kayak bayar terus dan terus, jadi kayak bisnis,” imbuhnya.

Pengalaman serupa juga dialami Eva, warga Jakarta Selatan. Dirinya mengikuti rapid test saat pulang dari Palembang ke Jakarta pada 27 Juni. Saat itu motivasinya untuk ikut rapid test hanya karena sekadar memenuhi syarat administrasi dalam penerbangan.

“Motivasinya hanya demi keperluan administrasi saja untuk terbang dari Palembang ke Jakarta di bandara. Saat itu saya bayar Rp 280 ribu di bandara,” ujar Eva.

Sebelum membeli tiket pun dia mencari informasi dulu berapa biaya rapid test di Palembang. Rata-rata bisa Rp 450 ribu. Dan melihat harga di bandara yang jauh lebih miring, Eva akhirnya memutuskan ikut rapid test di bandara.

“Dengan adanya tarif Rp 150 ribu yang baru oleh Kemenkes menurut saya sih baik ya. Artinya sudah dilakukan pemerataan harga. Ya bisa lebih murah kan,” jelasnya.

Meski begitu, menurut Eva, rapid test masih belum jelas tujuan dan efektivitasnya. Pasalnya rapid test juga tak bisa memberikan hasil yang akurat dan harus dilanjutkan dengan PCR. Selain itu, jika sudah di-rapid test sekali, tak menjamin tak akan terinfeksi Covid-19 di setiap detik perjalanan.

“Ini tujuannya apa, sebagai orang awam rapid test ini saya penuhi hanya untuk administrasi saat itu. Ini tuh buat apa, di balik ini ada apa? Masyarakat juga harus antre, butuh waktu. Dan setelah rapid pun saat saya dari bandara naik taksi online ke rumah, belum tentu juga kan saya enggak tertular Covid-19. Lalu untuk apa?” imbuh Eva.

Komentar

VIDEO TERKINI