Tarif Tertinggi Rapid Test Rp 150 Ribu, Begini Respons Masyarakat

Juli 9, 2020

JAKARTA, RAKYATJATENG – Keputusan Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan yang menetapkan batasan tertinggi tarif rapid test sebesar Rp 150 ribu disambut komentar beragam oleh masyarakat.

Sebagian warga juga punya cerita dan pengalaman saat mereka mengikuti rapid test secara mandiri alias membayar sendiri. Tentu biaya di lapangan, sebelumnya, lebih dari Rp 150 ribu.

Salah satunya dialami Putri warga Jakarta Timur. Saat itu dia hendak pulang kampung ke Banyumas dan diwajibkan untuk ikut rapid test sebagai syarat keberangkatan. Dia dikenakan biaya Rp 350 ribu.

“Saya sebelum Lebaran ikut rapid test kena Rp 350 ribu di rumah sakit khusus THT di Jakarta Pusat,” katanya kepada JawaPos.com, Rabu (9/7).

Pengalaman lainnya diceritakan oleh warga Pademangan, Jakarta Utara, Indah Fajar. Awalnya suaminya ikut rapid test di kantornya di perusahaan otomotif dan dibiayai kantor. Hasilnya non reaktif. Namun Indah yang berprofesi sebagai dosen, akhirnya bernisiatif menguji kesehatannya dengan rapid test.

“Karena Pademangan itu zona merah, saya berinisiatif tes. Dan saya cari-cari di aplikasi kesehatan ada yang paling murah dan iklannya gratis. Tapi ternyata saat datang ke wilayah Pulo Mas untuk tes tetap bayar dikenakan biaya Rp 100 ribu untuk ganti APD. Menurut saya enggak apa-apa itu sudah yang termurah, karena rata-rata bisa Rp 299 ribu sampai Rp 499 ribu tergantung paketnya. Ada yang sampai foto toraks segala,” jelasnya.

Setelah dites, Indah pun dinyatakan reaktif. Dia makin bingung saat itu karena tes swab PCR secara mandiri bisa sampai Rp 2 jutaan. Alhasil dia datang ke Puskesmas dan seluruh keluarganya dites swab PCR sebanyak 1 KK hingga 2 kali. Dan beruntung hasilnya negatif.

Komentar