Elektabilitas Gibran ‘Meroket’ 307 Persen, Purnomo 8,6 Persen

Juni 24, 2020

SOLO, RAKYATJATENG – Angka elektabilitas bakal calon wali kota Surakarta dari PDIP, Gibran Rakabuming Raka mengalami loncatan signifikan.

Putra sulung presiden Joko Widodo itu mampu melakukan akselerasi elektabilitas sebesar 307 persen dalam kurun waktu enam bulan. Sementara elektabilitas sesama bakal calon wali kota dari PDIP, Achmad Purnomo hanya mengalami kenaikan 8,6 persen.

Pada Juli 2019, elektabilitas Gibran masih berada di angka 13 persen. Kalah telak dengan incumbent Purnomo yang saat itu sudah berada di posisi 38 persen.

Satu semester berjalan, pengusaha martabak itu terus memperbaiki elektablitas melalui mesin politik yang solid. Hasilnya, pada Januari 2020 mampu menggenggam elektabilitas sebesar 40,4 persen, sementara Purnomo hanya naik tipis menjadi 46,6 persen.

“Tren elektabilitas Gibran tumbuh dengan cepat antara Juni 2019 ke Januari 2020, dan berlanjut meningkat hingga Juni 2020. Sedangkan tren Purnomo tumbuh sedikit lebih tinggi antara Juni 2019 ke Januari 2020. Namun cenderung menurun lebih rendah di Juni 2020,” terang peneliti dari Solo Raya Polling, Suwardi saat menggelar jumpa pers hasil survei Pilkada Solo 2020, Selasa (23/6).

Setelah Januari 2020, lanjut Suwardi, tren elektabilitas Gibran terus meroket, sedangkan Purnomo anjlok. Hingga pertengahan Juni ini elektabilitas Gibran menyentuh angka 55 persen, Purnomo 36 persen.

Turunnya elektabilitas Purnomo salah satunya disebabkan respons negatif masyarakat terkait keputusan mundurnya dia dari bursa pemilihan wali kota. Ditambah lagi Purnomo justru melakukan manuver politik dengan menerima kembali permintaan untuk maju setelah surat pengunduran dirinya ditolak Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP.

“Kalau kita lihat, terdapat irisan antara kenaikan elektabilitas Gibran dengan penurunan elektabilitas Purnomo ada di bulan Maret. Itu adalah saat pandemi datang. Menurut analisa saya, mesin politik Gibran tetap bekerja dengan membagi sembako terus menerus, sedangkan mesin politik Purnomo tidak bekerja secara masif,” terangnya.

Komentar