ODP Meningkat, Ini Langkah Pemkot Semarang

SEMARANG, RAKYATJATENG – Angka Orang Dalam Pemantauan (ODP) Covid-19 di Kota Semarang meningkat dalam lima hari terakhir. Tercatat, jika pada 25 Mei lalu ODP sebanyak 148 orang, hingga 29 Mei jumlah ODP bertambah mencapai 200 orang.

Naiknya jumlah ODP di Kota Semarang teesebut dipengaruhi jumlah orang positif Covid-19 yang juga melonjak beberapa hari kebelakang ini.

Untuk itu Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang berupaya memaksimalkan pelacakan orang yang kontak fisik dengan penderita, agar dapat menekan penyebaran Covid-19.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mencontohkan, pelacakan yang dilakukan salah satunya terhadap kasus penularan Covid-19 di Pasar Rejomulyo Lama Kota Semarang, atau yang biasa disebut Pasar Kobong.

Wali Kota Semarang yang akrab disapa Hendi itu mengungkapkan, sebelumnya klaster Pasar Kobong ada temuan delapan kasus reaktif dari rapid test yang dilakukan.

Kemudian Pemkot Semarang berupaya melakukan pelacakan, hasilnya didapati ada penularan yang lebih luas.

“Jadi kita tracking itu, siapa saja pedagang yang waktu itu positif, mereka ketemu dengan siapa saja? Entah itu dengan keluarganya, yang lebih ironis ada keluarga di Pedurungan yang bapaknya pedagang di Pasar Kobong, istrinya positif, anaknya positif, beberapa tetangganya positif,” kata Hendi, Jumat (29/5).

Penularan juga bisa melalui droplet seseorang, yang menderita Corona atau melalui tangan yang tidak terjaga kebersihan, lalu menggunakan uang untuk transaksi.

Untuk itu Hendi pun berharap agar masyarakat tidak menyepelekan standar operasional prosedur (SOP) kesehatan. Tidak hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga membahayakan sekelilingnya.

“Covid-19 ini bukan soal urusan diri sendiri, tetapi juga menjaga sekelilingnya, ini yang harus benar-benar dipahami agar bisa lebih peduli. Jadi penting juga untuk saling mengingatkan, kalau ada yang tidak pakai masker di sekelilingnya, tolong diingatkan, untuk keselamatan diri yang mengingatknya juga,” ujar dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam mengakui jika Ro Kota Semarang saat ini berlipat, salah satunya dari klastes Pasar Kobong.

“Dari yang kita temukan awal, dalam proses tracking yang dilakukan, 1 penderita di sana kontak erat dengan lainnya ada yang hingga 4 sampai 6 orang, bahkan 11 orang. Ini tentu mengkhawatirkan, maka pemutusan mata rantai diharapkan bisa didukung masyarakat dengan tertib menjalankan SOP Kesehatan,” katanya. (Sen)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Sonny Wakhyono