Risiko Tinggi, Nelayan Butuh Jaminan Perlindungan yang Memadai

Februari 25, 2020
Belum ada gambar

SEMARANG, RAKYATJATENG – Saat mencari ikan di tengah laut, para nelayan memiliki risiko tinggi. Hanya saja, mereka tidak dibarengi dengan jaminan perlindungan yang memadai. Terutama nelayan tradisional yang banyak bekerja sebagai pekerja lepas.Hal itu disorot oleh Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Susan Herawati saat menjadi narasumber seminar nasional dengan tema “Perlindungan Pekerja Perikanan dan Tantangannya Dalam Omnibus Law di Universitas Semarang (USM), Selasa (25/2).Menurutnya, sekira 2,7 juta nelayan Indonesia adalah nelayan tradisional. “Para nelayan tradisional ini menghadapi ancaman perampasan ruang hidup,” katanya.Susan Herawati juga menyoroti RUU Omnibus Law yang menurutnya sarat akan kepentingan investasi skala besar.Dia menilai Pasal 28 RUU Omnibus Law Cipta Kerja, khususnya yang merevisi Pasal 27 ayat (3) UU Perikanan, rawan terjadi perbudakan di atas kapal perikanan.Aturan itu menyebut “Setiap orang yang mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera Indonesia di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia atau mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing di ZEEI wajib membawa dokumen Perizinan Berusaha”.”Nelayan-nelayan kecil dan nelayan tradisional, yang menggunakan perahu di bawah 10 GT serta menggunakan alat tangkap ramah lingkungan, dipaksa harus mengurus perizinan perikanan tangkap,” tambahnya.Menurutnya, RUU ini memberikan kemudahan izin bagi kapal-kapal asing untuk melakukan penangkapan ikan di perairan Indonesia, khususnya di kawasan Zona Ekonomi Ekslusif. Selain itu, juga akan mendorong ekspansi pembangunan pelabuhan skala besar di kawasan pesisir Indonesia.”RUU ini menyamakan nelayan kecil dan nelayan tradisional dengan nelayan skala besar, nelayan yang menggunakan perahu di atas 10 GT,” jelasnya.Sementara Safe Seas Project Director Plan International Indonesia Nono Sumarsono, juga menyoroti lemahnya perlindungan bagi pekerja perikanan termasuk buruh nelayan. Anak buah kapal (ABK) kebanyakan bukan bekerja atas kompetensi tetapi lebih pada desakan ekonomi.

Komentar

VIDEO TERKINI