Hendi Targetkan Kota Lama Semarang Dikunjungi 7,5 Juta Wsatawan

Agustus 28, 2019

SEMARANG, RAKYATJATENG – Bertepatan dengan momen peringatan Hari Tata Ruang (Haritaru) Dunia yang jatuh pada Kamis, 8 November 2012, Hendrar Prihadi yang kala itu baru saja memegang pucuk pimpinan Pemerintah Kota Semarang bertolak ke Jakarta menuju Kantor Kementerian PU.Bukan tanpa alasan, dirinya berniat untuk serius melakukan pembenahan Kota Lama Semarang dengan menandatangani Piagam Komitmen Kota Pusaka.Penandatanganan tersebut dinilainya perlu untuk dapat mendorong berbagai pihak, baik dari luar maupun dari Kota Semarang sendiri untuk memprioritaskan pembangunan Kota Lama, sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya Indonesia, bahkan dunia.Piagam komitmen itulah lantas yang digunakan oleh Walikota Semarang, Hendrar Prihadi untuk menarik perhatian seluruh lapisan masyarakat agar mau berkontribusi dalam pembangunan Kota Lama Semarang.Tak hanya itu, melalui piagam komitmen itu, Pemerintah Kota Semarang secara bertahap dan terencana menerapkan standar penataan dan pelestarian kota pusaka, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengembangan kerja sama, hingga memberikan alokasi anggaran guna merealisasikan rencana pengembangan Kota Lama.Adapun rob dan banjir di Kawasan Kota Lama Semarang menjadi tantangan besar pertama yang harus dihadapi oleh Hendi, akrab disapa Walikota Semarang saat itu.Dirinya bergerak cepat melakukan penanganan, Kawasan Kota Lama sebagai bagian yang diupayakan tertangani dengan Mega Proyek Penanganan Banjir di Kota Semarang senilai 1,7 Triliun. Rob dan banjir Kawasan Kota Lama Semarang sendiri mulai teratasi dengan peningkatan Sistem Drainase Perkotaan Kali Semarang pada tahun 2013.Tantangan selanjutnya dihadapi, yaitu bagaimana Pemerintah Kota Semarang mampu memprovokasi serta mendorong para pemilik gedung di kawasan Kota Lama, untuk dapa melakukan revitalisasi asetnya masing – masing. Pasalnya dari 245 bangunan yang ada pada Kawasan Kota Lama Semarang, 177 bangunan merupakan milik pribadi, dan 68 lainnya milik swasta.

Komentar