Jelang Munas Golkar, Antara Kompetensi dan Restu Jokowi

Juli 18, 2019

JAKARTA, RAKYATJATENG – Ketua DPR Bambang Soesatyo yang juga kandidat Ketua Umum Partai Golkar melakukan pertemuan tertutup dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di istana negara, pada Senin (15/7). Isu politik pun bergulir dan mengaitkan itu dengan wacana Munas Golkar yang akan digelar tahun ini.Di sela-sela pertemuan itu, politkus yang akrab disapa Bamsoet itu juga tidak membantah bahwa ada pembicaraan soal Golkar. Namun, menurutnya Jokowi hanya berpesan bahwa Golkar harus dijaga kekompakannya. Sehingga tak ada perpecahan di internal.“Golkar harus dijaga, jangan lagi ada partai-partai baru dari Golkar, cukuplah anak-anak yang kemarin sudah lahir, jangan lahir lagi, jaga kekompakan, perkuat Partai Golkar,” katanya.Bamsoet juga membantah pertemuannya dengan Presiden Jokowi itu membicarakan soal dukung mendukung calon ketua umum Partai Golkar. Presiden hanya berpesan supaya kader-kader Golar tetap kompak.‎”Tadi membicarakan Golkar saja, tidak ada dukung-mendukung. Enggak ada restu-merestui. ‎Hanya kita bicara bagaimana Golkar ke depan harus tetap menjadi partai tengah yang bisa menyatukan semua kekuatan yang ada,” ungkapnya.Merespon hal itu, pengamat politik Universitas Bunda Mulia (UBM), Silvanus Alvin menganggap, Golkar menjadi partai yang spesial di mata Jokowi. Tentunya, siapa pun Ketua Umum Golkar kedepan tidak akan lepas dari restu Presiden.Sebab, lanjut Alvin, Jokowi dalam memimpin pemerintahan selama lima tahun ke depan memerlukan jaminan kenyamanan dari figur ketua umum Golkar yang akan datang.Dalam catatan Alvin, saat ini memang baru dua figur di internal Golkar yang telah muncul sebagai calon ketua umum, yakni Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo. Keduanya kader potensial yang ada di interbal beringin saat ini.“Saya yakin restu Jokowi ini memiliki peran signifikan. Karena hal itu yang akan jadi acuan bagi kader-kader Golkar yang memegang hak pilih nanti,” ujar Alvin, Rabu (17/7).

Komentar