D.S. Elisabet Novililiana, Pelestari Aksara Jawa Berdarah Tionghoa

Juni 24, 2019
Belum ada gambar

Begitu juga saat perempuan berkacamata itu kurang rapi menulis salah satu aksara. Sang kakek langsung menegurnya. Penularan ilmu dengan cara itu benar-benar mudah diterima. Wajar jika Nana Lie suka dan paham sekali aksara Jawa.Dia sering membuat guru SD-nya kerepotan saat menanyakan sandangan aksara Jawa. Tak jarang, pertanyaan itu dijawab, ’’Durung waktune dijelaske saiki (belum waktunya dijelaskan sekarang).”Nana Lie merasa heran dengan cara kakek dan nenek mendidik cucunya. Rekan-rekannya yang berdarah Tionghoa tidak diajari tradisi Jawa. Mereka diajari menulis aksara Han atau Tionghoa dan makan dengan menggunakan sumpit. ’’Saya justru tidak pernah mendapat pelajaran itu,’’ ucapnya.Dia pernah bertanya kepada sang kakek, lalu dijawab, ’’Sekarang kita sudah hidup dan tinggal di Jawa, adat dan tradisi tempat tinggal harus dipelajari.’’Kebiasaan itu dibawa ibu Nana Lie, Christina. Majalah yang menjadi bacaan setiap bulan berbahasa Jawa. ’’Saya suka dan paham tentang budaya Jawa karena dukungan lingkungan juga,’’ kata ibu satu anak tersebut.Pemahaman itu terus bertambah. Dasar itu pula yang membuat Nana Lie memilih sastra Jawa saat berkuliah. Keraguan itu terjawab. Kini, Nana Lie menjadi penulis salah satu majalah berbahasa Jawa. Artikel yang dia tulis menggunakan aksara Jawa. Tulisan tersebut memiliki pembaca fanatik. Selain itu, Nana Lie menemukan banyak filosofi saat belajar tentang aksara Jawa.Dia mengungkapkan, literatur yang menggunakan aksara Jawa mencerminkan penulisnya. Mulai goresan tulisan, penempatan sandangan, hingga penggunaan bahasa, pasti ada artinya. ’’Saya banyak menemukan pada literatur lawas,’’ ujarnya.Kini, Nana Lie masih memiliki mimpi. Aksara Jawa harus dibumikan. Dia ingin membuat merchandise bertulisan aksara Jawa. Selama ini, Nana Lie memulainya pada desain kaus. ’’Aksara Jawa yang indah,” terangnya.

Komentar

VIDEO TERKINI