D.S. Elisabet Novililiana, Pelestari Aksara Jawa Berdarah Tionghoa

Juni 24, 2019

BUDAYA menulis menggunakan aksara Jawa mulai jarang dilakukan. Namun, tidak demikian Dwi Sukirahayu Elisabet Novililiana. Bagi dia, hal tersebut merupakan tantangan tersendiri. Dia ingin membumikan aksara Jawa di era sekarang.THORIQ S. KARIM, Surabaya—Tumpukankertas bertulisan aksara Jawa tergeletak di meja rumah Nana Lie, sapaan akrab D.S. Elisabet Novililiana. Kertas itu merupakan artikel yang akan dikirim Nana Lie ke salah satu majalah berbahasa Jawa yang berkantor di Surabaya. Aktivitas berkirim artikel berbahasa Jawa tersebut sudah dilakukan dua tahun belakangan. ’’Temanya tentang kehidupan,’’ kata perempuan 35 tahun tersebut.Artikelnya tidak biasa. Menggunakan bahasa Jawa yang ditulis dengan aksara Jawa. Kemampuan menulis aksara Jawa itu dia pelajari sejak di bangku SD. Saat itu guru di sekolah SD Tarakanita Magelang sering memberikan pekerjaan rumah (PR) membuat cerita dengan menggunakan aksara Jawa.Bisa jadi, sebagian siswa tidak menyukai tugas tersebut. Tapi, Nana Lie justru selalu menantikan hal itu. ’’Kalau ada tugas itu, saya bisa ngalem sama Oma dan Opa (kakek nenek),’’ terangnya. Nana Lie merupakan putri pasangan Agustinus Sukino dan Christina Lanny Yulianti Darah Tionghoa mengalir dari ibunya. Sang kakek bernama Lie Tjong Sing, sedangkan neneknya bernama Tan Lut Nio. Nana Lie belajar aksara Jawa dari kakek dan neneknya itu. ’’Mereka tak sekadar bisa, tapi memang jago menulis aksara Jawa,’’ kenang dia.Karena itu, PR menulis aksara Jawa tersebut menjadi alat bagi Nana Lie untuk bercengkerama dengan sang kakek. Dia bisa bermanja saat sang kakek mengajari dan mengenalkan aksara Jawa tersebut. Misalnya, saat menempatkan sandangan (tanda-tanda) pada aksara itu. ’’Iki jenenge pangku,’’ ujar Nana Lie yang menirukan ucapan sang kakek saat mendampinginya mengerjakan tugas.

Komentar