Kemandirian Warga Binaan Lapas Perempuan Tangerang Munculkan Banyak Simpati

Juni 21, 2019

JAKARTA—Direktorat Jenderal Pemasyarakatan terus mendorong percepatan revitalisasi pemasyarakatan, salah satunya dengan upaya terpadu dan konsisten menumbuhkan kecakapan dan kemandirian warga binaan. Usaha penuh tekad dan konsisten tersebut tak urung membuat banyak kalangan merasa simpati dan terkesan, antara lain aktor Okan Kornelius.Pengakuan tersebut disampaikan Okan kepada wartawan di Jakarta, Kamis malam, 20 Juni. Sehari sebelumnya Okan yang mewakili sebuah perusahaan publik itu sempat menyambangi Lapas Perempuan Tangerang untuk sebuah kerja sama dalam meningkatkan kualitas produk yang proses produksinya sudah berjalan lama di Lapas.“Masyarakat seharusnya tahu bahwa warga binaan itu ternyata kreatif, ulet, telaten, dan dapat menghasilkan banyak produk yang berkualitas,” kata Okan. Ia menyayangkan minimnya publikasi yang bisa diakses masyarakat sehingga mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dengan mengetahui pasti kualitas dan kemandirian warga binaan, kata Okan, masyarakatakan lebih mudah menerima warga binaan yang sudah kembali ke masyarakat.“Semua itu akan memperlancar usaha warga binaan untuk kembali melebur dan menjadi warga yang berguna serta memberikan partisipasi maksimal sesuai kemampuan mereka,” kata aktor yang membintangi banyak sinetron nasional itu. Minimnya pemberitaan tentang kualitas kemandirian dan kesiapan warga binaan kembali ke masyarakat, kata Okan, akan membuat citra warga binaan sebagai orang terbuang terus melekat kuat dalam keseharian publik. Pada gilirannya, hal itu tak hanya mempersulit kembalinya warga binaan diterima masyarakatnya, tetapi juga menambah potensi persoalan sosial.Selama ini Lapas Perempuan Tangerang tergolong lapas yang banyak menggelar program pembinaan kemandirian dan pemberian keahlian untuk warga binaan mereka. Lapas juga terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai lembaga yang peduli. Setidaknya pemberitaan media setahun terakhir tercatat kerja sama lapas dengan banyak pihak, antara lain, Dompet Dhuafa, Universitas Syekh Yusuf Tangerang, Universitas Binus, Foundation For International Human Rights Reporting Standards (FIHRRST) sebuah lembaga nirlaba peduli hak asasi yang berpusat di Brussel, Belgia, Yayasan TIFA, dan banyak lagi.

Komentar