Mudik, 68,6 Persen Warga Tinggalkan Surabaya

Juni 3, 2019
Belum ada gambar

SURABAYA, RAKYATJATENG – Survei Departemen Statistika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menunjukkan bahwa 68,6 persen warga Surabaya mudik ke kampung halaman. Karena itu, suasana kota begitu lengang saat Lebaran.Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Adrian Perkasa langsung teringat tulisan Howard Dick. Yakni, Surabaya City of Works. Sejak awal 1900-an Surabaya menjadi salah satu kota industri dan perdagangan terbesar di Indonesia.”Jadi, orang-orang dari Kediri, Pasuruan, Lamongan, dan Tuban datang ke Surabaya untuk bekerja. Bahkan, Tjokroaminito pun bukan orang Surabaya,” kata Adrian kemarin.Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto berasal dari Ponorogo. Pendiri Sarekat Islam itu tinggal di kawasan Peneleh. Rumahnya masih ada hingga kini dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah Surabaya.Mereka yang datang dari luar kota menetap selama lebih dari satu abad. Namun, keturunannya tetap terhubung dengan kampung halaman. Karena itu, saat mudik, yang tersisa di Surabaya hanya sepertiga penduduk.Mereka yang tidak mudik memang tidak memiliki kampung halaman. Secara turun-temurun dari kakek, buyut, hingga tingkatan yang lebih tinggi memang sudah menetap di Surabaya. Mereka tinggal di kawasan Surabaya lawas.Namun, ada juga warga asli Surabaya yang ikut mudik ke kampung halaman istri atau suami. Kondisi tersebut menambah jumlah persentase warga yang mudik selama Lebaran.Adrian menambahkan, pertambahan penduduk Surabaya sejak sekitar 1980 hingga kini tidak melonjak drastis. Angkanya stabil di kisaran 3 juta jiwa. Banyak yang bekerja di Surabaya, tetapi tinggal di Sidoarjo atau Gresik. Makanya, ketika siang populasi Surabaya bisa menembus 7 juta jiwa. Begitu jam pulang kerja, jumlahnya menurun separo. ”Jadi 3 juta seperti semula,” jelas dosen ilmu sejarah tersebut.

Komentar

VIDEO TERKINI