Tarif Baru Tiket Pesawat Dinilai Bebani Maskapai

Mei 15, 2019
Belum ada gambar

JAKARTA, RAKYATJATENG – Keputusan pemerintah menurunkan tarif batas atas (TBA) tiket pesawat akan memberatkan maskapai-maskapai penerbangan. Sebab, harga beberapa komponen yang memengaruhi tarif tiket masih tinggi.Hal itu disampaikan Ketua Penerbangan Berjadwal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto kemarin (14/5).INACA adalah organisasi yang menaungi perusahaan-perusahaan penerbangan. Organisasi tersebut diakui sebagai mitra pemerintah.Bayu menjelaskan, penurunan TBA sebanyak 12-16 persen tidak hanya membebani maskapai penerbangan full service. Dia memprediksi range tarif maskapai low cost carrier (LCC) bakal ikut melandai. “Kategori medium dan LCC juga akan terdampak. Sebab, harga LCC itu sekitar 85 persen dari TBA. Jika yang di atas turun, yang bawah ikut turun,” paparnya.Dia menyebutkan, harga avtur dan kurs dolar AS (USD) yang menjadi variabel utama penetapan TBA saat ini lebih tinggi daripada harga saat penetapan TBA sebelumnya. Kemarin kurs USD menguat 0,66 persen atas rupiah. Akibatnya, nilai tukar rupiah berada di level 14.423 per USD.Harga avtur yang dimonitor International Air Transport Association (IATA) pada awal Mei 2019 bergerak naik hingga 3,1 persen jika dibandingkan dengan bulan lalu. “Penurunan TBA berdampak bagi kinerja keuangan maskapai. Terlebih, saat ini kondisi sebagian besar keuangan maskapai nasional belum bisa dibilang bagus,” tambah Bayu.Kendati demikian, INACA menyatakan akan tetap mengikuti keputusan pemerintah. ”Pemerintah memiliki wewenang penuh untuk mengatur batas tarif. Kita lihat nanti. Kita tunggu detail peraturannya seperti apa,” katanya.Sementara itu, menanggapi penurunan tarif batas atas tiket pesawat, Direktur Niaga AirAsia Indonesia Rifai Taberi menegaskan, pihaknya masih menunggu aturan detail dari pemerintah mengenai penurunan TBA untuk setiap rute. ”Tapi, yang pasti, kami akan ikuti regulasi. Kemenhub sudah melakukan perhitungan sebelum mengambil keputusan ini,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos tadi malam.Mengenai pengaruh penurunan TBA terhadap traffic penumpang, khususnya saat peak season libur Lebaran, Rifai menegaskan bahwa load factor diprediksi semakin maksimal. “Kami perkirakan akan tetap full. Sebab, masa hari raya itu adalah masa superpeak untuk Indonesia,” tambahnya.Menurut dia, setiap airlines mempunyai strategi untuk mengakomodasi aturan pemerintah. AirAsia, lanjut dia, akan menyesuaikan sub-class yang ada dengan tetap mengikuti koridor regulasi. Strategi sub-class itu membuat harga tiket AirAsia cenderung tidak naik saat maskapai penerbangan lain memasang harga tinggi.“Kami menggunakan sub-class. Dengan strategi itu, harga tiket didistribusikan menjadi beberapa sub-class, dari yang murah sampai yang mahal. Kalau booking lebih awal, pasti lebih murah. Dan juga kan ada seasonality-nya. Kalau hari raya pasti lebih mahal, kalau low season lebih murah,” jelasnya.Sebagaimana diketahui, pemerintah menurunkan TBA tiket pesawat 12-16 persen. Jika dirata-rata, penurunan itu mencapai 15 persen. Rencananya, hari ini tarif baru itu dipayungi dengan peraturan menteri perhubungan (permenhub). Berdasar pasal 20 Permenhub Nomor 20 Tahun 2019, aturan baru mengenai tarif harus dipublikasikan. Paling lama 15 hari kerja sejak TBA ditetapkan.(JPC)

Komentar

VIDEO TERKINI