Beberkan Makna Filosofis Dugderan, Nur Ianah Dihadiahi Ganjar Rp1 Juta

Mei 5, 2019
Belum ada gambar

SEMARANG, RAKYATJATENG – Pengetahuan tentang sejarah Dugderan ternyata membawa berkah bagi Nur Ianah (38), warga Tlogosari, Kota Semarang. Berbekal pemahaman yang diperoleh secara gethok tular atau dari mulut ke mulut, dia lancar saat diminta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membeberkan makna filosofis tradisi penyambutan Ramadan itu.“Dug adalah suara bedug dipukul, sementara der adalah suara meriam atau mercon sebagai penanda telah memasuki bulan puasa,” kata Ianah.Penjelasan Ianah tersebut merupakan jawaban dari tantangan Ganjar Pranowo yang berperan sebagai Kanjeng Mas Raden Tumenggung Probo Hadikusumo saat memberi sambutan perayaan Dugderan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Sabtu (4/5/2019).“Bedug dan meriam dibunyikan oleh Wali Kota Semarang ketika itu setelah menerima hasil rapat para kiai atau ulama. Karena Semarang ini luas dan ketika itu belum ada speaker, maka dipilih suara yang bisa didengar seluruh warga,” ujarnya.Ganjar semringah mendengar penjelasan wanita asal Tlogosari itu, karena ternyata warisan tersebut telah mendarah daging di masyarakat Semarang. Lebih hebatnya, tradisi tersebut tetap istikamah dilakukan sampai sekarang. Ganjar pun langsung memberi hadiah Ianah berupa uang cash Rp1 juta.“Masyarakat sekarang berkumpul semuanya menunggu cerita yang sudah ratusan tahun. Ternyata masyarakat sangat antusias menunggu Ramadan dan mereka juga tahu sejarah Dugderan, dug itu suara bedug, der itu suara mercon atau meriam. Maka ini menjadi tradisi yang dinantikan masyarakat Semarang,” terangnya.Masyarakat Semarang memang tumplek blek memadati kawasan MAJT setelah sebelumnya mengikuti arak-arakan dari Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman) di kawasan Johar. Beragam kesenian asli Semarang tampak mengiringi, dari tari-tarian hingga Warak Ngendok.Tampak pada Perayaan Dugderan menjelang bulan Ramadan tahun 1440 H itu, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang berperan sebagai Tumenggung Aryo Purboningrat, bersama Wakil Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu. Dalam prosesinya, Tumenggung Aryo Purboningrat melakukan halaqah atau diskusi dengan ulama di Masjid Kauman untuk menetapkan awal pelaksanaan ibadah puasa.

Komentar

VIDEO TERKINI