Suhu Udara di Jogja Terasa Agak Panas, Ini Penjelasannya

April 26, 2019
Belum ada gambar

JOGJAKARTA, RAKYATJATENG – Beberapa hari terakhir suhu maksimum di wilayah Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) lebih tinggi dari rata-rata. Berdasar catatan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Yogyakarta, suhu saat ini merupakan yang tertinggi periode April sejak 2015 silam.Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Jogjakarta, Djoko Budiyono mengatakan, suhu tinggi ini dialami sejak 21 April lalu dengan kisaran 32 derajat Celcius.“Pengamatan tadi pagi, suhu maksimum siang hari masih kisaran 32 C. Jadi masih relatif sama dengan hari sebelumnya,” katanya, Jumat (26/4).Suhu maksimum per hari sejak 21 April lalu kisaran 32 sampai 33 derajat celcius. Sedangkan rata-rata pada bulan yang sama antara 2015 hingga 2018 lalu yakni 31,3 derajat celcius.Djoko mengungkapkan, salah satu faktornya adalah karena masa transisi atau pancaroba dari musim hujan ke kemarau. Menyebabkan kelembaban udara masih kategori tinggi membuat adanya potensi pembentukan awan.“Kondisi ini berdampak pada suhu udara yang dirasa cukup gerah. Sifat awan dan uap air ini mampu menyerap radiasi panas yang dikeluarkan dari bumi. Akibatnya akan meningkatkan suhu udara, sehingga akan terasa gerah,” katanya.Kondisi seperti ini diperkirakan akan berakhir bila semua wilayah di DIJ sudah masuk musim kemarau. Yakni kisaran pertengahan Mei mendatang. “Awal sampai pertengahan Mei, wilayah DIJ memasuki kemarau. Untuk daerah yang paling awal mengalaminya di Kabupaten Gunungkidul bagian selatan,” ucapnya.Kepala Unit Analisa dan Prakiraan Cuaca BMKG Stasiun Klimatologi Mlati, Sigit Hadi Prakosa menambahkan, selain masa pancaroba juga karena astronomi yang membuat wilayah DIJ terasa agak panas suhunya. “Matahari masih dekat dengan ekuator, juga vegetasi tanaman terutama di perkotaan yang semakin berkurang,” katanya.

Komentar

VIDEO TERKINI