Realisasi Pajak Sektor Pariwisata Kota Semarang Naik Drastis

Maret 15, 2019

SEMARANG, RAKYATJATENG – Beberapa tahun terakhir, pembangunan Kota Semarang mengalami peningkatan sangat pesat dan dirasakan hampir seluruh pihak.Adapun konsep pembangunan Bergerak Bersama yang dijalankan oleh Walikota Semarang Hendrar Prihadi dengan melibatkan semua pihak, termasuk pihak swasta dinilai sukses membawa perubahan.Namun di sisi lain, Walikota Semarang yang akrab disapa Hendi tersebut menaruh perhatian kepada postur realisasi pajak Kota Semarang yang digunakan untuk pembangunan.Pasalnya, dia menilai bahwa pembangunan Kota Semarang bisa lebih dimaksimalkan, ketika realisasi pajak Kota Semarang tak hanya didominasi oleh pajak nonproduktif.Sejak dirinya memimpin Kota Semarang pada 2011 lalu, Hendi menuturkan, tiga mata pajak terbesar Kota Semarang selalu didominasi oleh Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), serta Pajak Penerangan Jalan Umum (PPJU).”Ini menjadi representasi masih banyaknya sektor belum tergarap di Kota Semarang. Kalau bisa didorong pengembangan sektornya, ini akan semakin meningkatkan pembangunan,” jelas politisi PDI Perjuangan tersebut.Menurut Hendi, pariwisata juga menjadi salah satu sektor yang strategis dikembangkan guna meningkatkan pembangunan.Untuk itulah, pada beberapa tahun terakhir Hendi fokus untuk menggarap sektor pariwisata, yakni dengan merevitalisasi sejumlah obyek dan kawasan wisata yang belum optimal di Kota Semarang.Beberapa upaya revitalisasi itu diantaranya revitalisasi Kota Lama, Hutan Wisata Tinjomoyo, inisiasi ratusan kampung tematik, hingga revitalisasi Banjir Kanal Barat melalui pembangunan Semarang Bridge Fountain dan sejumlah pembangunan lainnya.Alhasil, realisasi pajak sektor pariwisata saat ini juga naik drastis, bahkan merangsek masuk menjadi tiga mata pajak terbesar di Kota Semarang. Tercatat pada 2011, hanya ada dana sebesar Rp 75,9 miliar yang dihasilkan dari pajak hotel, restoran, dan tempat hiburan.

Komentar