Kapendam Diponegoro: Saya Terapkan Strategi, Sistem, Struktur, Skill, Speed dan Target

Januari 16, 2019

SEMARANG, RAKYATJATENG – Memasuki usia yang ke-68 tahun dan di era kekinian, Penerangan Angkatan Darat dalam menyampaikan informasi bersama-sama dengan pelaku media bukan perkara yang mudah.Keberadaan internet yang semakin tak terpisahkan dari kehidupan manusia dan kecepatan serta luasnya jangkauan informasi melalui internet, mengharuskan setiap informasi yang disajikan harus lengkap, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.Hal tersebut disampaikan Kapendam IV/Diponegoro Kolonel Arh Zaenudin S.H M.Hum dalam sambutanya pada acara syukuran HUT ke-68 Penerangan Angkatan Darat sekaligus silaturahmi dengan insan media di Kantor Pendam IV/Diponegoro Semarang, Selasa (15/1).Menurutnya, mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali dan dari balita hingga manula tidak bisa lepas dari ponsel yang terkoneksi dengan internet.”Karena memang keberadaan internet sangat membantu dalam mencari dan mempublikasi informasi secara cepat dan uptodate, sehingga saat bersamaam muncul peluang seseorang atau kelompok untuk berekspresi, berkreasi dan berinovasi,” kata Kapendam.Namun disisi lain, kata Kapendam, peluang tersebut sering disalahgunakan untuk melakukan penipuan atau tindak kejahatan melalui dunia maya (cyber crime), menyebar berita bohong (hoax) dan menebar ujaran kebencian (hate speech) untuk mendapatkan keuntungan sesaat.”Khususnya informasi atau berita yang dapat merugikan TNI, TNI AD maupun Kodam IV/Diponegoro serta mengancam persatuan dan keutuhan NKRI. Internet itu banyak menguntungkan, tetapi juga dapat membahayakan,” ujar Kapendam.Menghadapi hal tersebut, lulusan Akmil 1996 itu mengajak kepada seluruh pelaku media dan terlebih khusus anggota Pendam IV/Diponegoro untuk bersama-sama menerjang badai post truth yang berisi cyber crime, hoax dan hate speech yang dihembuskan oleh orang atau kelompok yang tidak bertanggung jawab.“Dengan masif dan gencarnya pemberitaan hoax dan hate speech maka akan dianggap sebagai sebuah kebenaran, sehingga kebenaran media diatas kebenaran realita (hipperrealitas). Ini akan sangat berbahaya bagi persatuan dan kesatuan bangsa,” ungkap Kapendam.

Komentar