Pelajar SMA di Sragen Nekat Rampok Sopir Taksi Online, Ini Alasannya

Desember 24, 2018
Belum ada gambar

SRAGEN, RAKYATJATENG – Jajaran Polres Sragen direpotkan ulah anak di bawah umur yang mencoba merampok sopir taksi online. Seorang pelajar salah satu SMA berinisial AB, 16, nekat menodongkan pisau pada sopir taksi online tersebut. Namun, aksinya gagal lantaran pengemudi memberikan perlawanan.Informasi yang dihimpun koran ini, peristiwa tersebut terjadi di Kelurahan Ngembatpadas, Kecamatan Gemolong, Sragen pekan kemarin. Pelaku dengan inisial AB, 16, berpura-pura memesan taksi online melalui aplikasi. Ketika sudah berada di dalam mobil, pelaku tiba-tiba menodongkan pisau dapur ke leher sang sopir taksi, Ikhsan Sentosa, 29, dari belakang.Korban yang warga Desa Pandeyan, Kecamatan Ngemplak, Boyolali ini pun sontak kaget. Seketika dia berusaha memberikan perlawanan dengan cara berusaha sekuat tenaga merebut pisau dari tangan pelaku. Usaha korban pun tidak sia-saia. Pelaku pun akhirnya kewalahan dan pisau terlepas dari tangannya.Merasa  kalah tenaga pelaku akhirnya memilih kabur dari dalam mobil. Setelah kejadian itu, korban langsung melapor ke polisi. Sementara itu akibat todongan pisau pelaku, bagian leher korban mengalami luka gores.Kapolres Sragen AKBP Yimmy Kurniawan mengapresiasi keberanian sang sopir dalam melawan pelaku kejahatan. Setelah mendapat laporan dari korban, pihaknya langsung melacak pelaku.”Setelah kami buru, pelaku akhirnya berhasil kami tangkap. Ternyata masih berusia 16 tahun,” beber kapolres kemarin (23/12).Kapolres menyampaikan, dari pengakuan pelaku, dia terpaksa melakukan aksi kejahatan ini lantaran kehabisan uang. Sebenarnya sudah diberi uang untuk kebutuhan sekolah, namun habis untuk kebutuhan yang lain.”Akhirnya dia mengambil jalan pintas nekat merampok sopir taksi online. Pelaku kami kenakan pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan dengan ancaman 9 tahun,” ujarnya.Karena masih di bawah umur, pelaku serahkkan ke pengadilan anak. Dia juga akan mendapat perlakuan khusus. Seperti mendapat penahanan khusus, ada pendampingan dari Balai Pemasyarakatan (Bapas), sidang dan kejaksaan secara tertutup.”Kami hormati pengadilan anak. Soal faktor apa masih ditangani Bapas. Kami coba kembalikan ke orang tuanya, karena ternyata orang tuanya di Jawa Timur,” ungkapnya. (din/bun) (rs/din/fer/JPR)

Komentar

VIDEO TERKINI