Nikmatnya Lontong Tuyuhan dan Jejak Pecinan Rembang

Agustus 1, 2018
Belum ada gambar

Padahal, menurut Opa Gandor, keturunan Cina di Lasem adalah warga asli Nusantara. Peradaban Cina masuk Lasem sudah ratusan tahun dideteksi keberadaannya. Keturunannya pun sudah sampai garis kedelapan atau sembilan saat ini sejak Cina masuk ke Lasem sekitar 1300-an.“Sekitar 7.000 orang Cina masuk Lasem waktu itu cowok semua dan menikah dengan perempuan pribumi. Mereka tinggal di sini karena kapalnya dibakar oleh kaptennya. Lalu menghasilkan keturunan,” ujar Opa Gandor.Kisah masa lalu Lasem belum kelar juga padahal kami sudah berkendara 20 menit dari pusat kota. Sentra lontong tuyuhan itu mulai terlihat. Lokasinya di tengah kebun tebu.  Ada lebih dari sepuluh penjual. Kata Opa Gandor, yang paling enak adalah kios kedua dan ketiga dari arah jalan pusat kota. Kami pun menuju kios kedua.Saat itu adalah jam makan siang. Hampir semua warung penuh pengunjung. Mereka duduk di bangku panjang. Angin semilir dari perkebunan yang mengepung lokasi sentra lontong itu membuat hawa terasa adem.Di depan kios tampak para pedagang sibuk mengiris lontong. Ada yang unik pada lontong tuyuhan. Bentuknya seperti kerucut berukuran besar. Mirip bakcang alias makanan khas Cina yang terbuat dari beras atau ketan.Bentuk lontong ini mendapat pengaruh memasak dari Cina, menurut Opa Gandor. Lontong tuyuhan disandingkan dengan sayur kuning berisi potongan ayam kampung. Diberi nama tuyuhan sesuai dengan daerahnya, kata Opa Gandor. Desa tempat kami makan lontong ini adalah Desa Tuyuhan. Lontong tuyuhan yang saat ini sudah tersebar sampai Rembang.Beberapa orang Tuyuhan pun berinisiatif membuka warung sederhana. Kini warung itu sudah berkembang lebih baik berbentuk permanen. “Karena bantuan pemerintah,” ukar Opa Gandor.

Komentar

VIDEO TERKINI