Antisipasi Kekeringan di Jateng, Prioritaskan Pembangunan Sumur dan Pipanisasi

Juli 4, 2018

SEMARANG, RAKYATJATENG – Sejak Mei lalu, Jawa Tengah mulai memasuki musim kemarau. Saat ini, beberapa daerah di Jawa Tengah sudah merasakan dampaknya karena dilanda kekeringan.Saat Rakor Kesiapan Menghadapi Ancaman Bencana Kekeringan 2018, Selasa (3/7) Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP mengemukakan, pihaknya secara rutin menerima informasi cuaca dari BMKG.Berdasarkan informasi itu, diperoleh data ada daerah-daerah yang mengalami kekeringan dengan kategori cukup panjang, antara 11 sampai 20 hari. Bahkan ada yang sangat panjang, antara 31 sampai lebih dari 60 hari.Daerah yang mengalami kekeringan hingga 60 hari terjadi di Bangsri Kabupaten Jepara. Daerah lain yang dalam pengawasan adalah Wonogiri, Rembang, Klaten, dan Grobogan. Namun pihaknya sudah menyiapkan upaya antisipasi agar kekeringan tidak berkepanjangan.“Dari kita kurang lebih ada 2.000 tanki yang kita siapkan untuk mendistribusikan air. Pokoknya yang sifatnya darurat kita sudah siap,” tuturnya kepada awak media usai rapat di Kantor BPBD Provinsi Jawa Tengah.Khusus untuk keperluan pengadaan air bersih, pihaknya sudah menyediakan anggaran Rp 600 juta. Sementara total anggaran penanggulangan bencana Pemprov Jateng sebesar Rp 40 miliar.“Dari anggaran Rp 40 miliar, sudah terserap 30 persennya. Mesti ora entek. Padahal sudah kita standby kan terus menerus. Maka kadang saya minta kepada kabupaten/ kota yang belum bisa menangani bencana, mungkin dari anggaran (pemkab/pemkot) belum bisa, saya minta kekno aku, agar (di provinsi) bisa terserap,” paparnya, seperti dilansir dari laman resmi Pemprov Jateng.Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng Sarwa Pramana menyambung, saat ini pihaknya sudah menyiapkan langkah strategis untuk membuat sumur dan pipanisasi di daerah-daerah rawan kekeringan, dengan menggunakan anggaran BNPB. Sebab, apabila upaya yang dilakukan hanya dropping air bersih, tidak akan pernah mengurangi luasan wilayah yang terdampak kekeringan.

Komentar