Angka Golput di Pilkada Serentak Masih Tinggi, Ini Penyebabnya

Juni 28, 2018
Belum ada gambar

JAKARTA, RAKYATJATENG – KPU menargetkan tingkat partisipasi pemilih dalam pilkada serentak 2018 bisa mencapai 77,5 persen. Namun, berkaca dari coblosan kemarin, target itu tampaknya sulit terealisasi.Angka golput diprediksi masih tinggi. Indikasinya, tingkat kehadiran pemilih masih tergolong rendah. Bahkan, di sejumlah daerah, kehadiran pemilih ke tempat pemungutan suara (TPS) tak sampai 60 persen.Berdasar hasil survei beberapa lembaga, tingkat partisipasi pemilih tergolong rendah. Salah satunya yang disampaikan lembaga survei Indikator Politik Indonesia. Menurut lembaga tersebut, partisipasi di berbagai daerah yang menggelar pilkada tidak bisa disebut tinggi.Di Jawa Timur, misalnya, partisipasi pemilih hanya ada di angka 62,23 persen dengan margin of error 1,33 persen. Demikian juga halnya di Jabar (67,83 persen) atau Sumatera Utara (68,54 persen). Ada juga yang masih lumayan seperti di Sulawesi Selatan (74,43 persen). “Dengan margin of error yang ada, target KPU sulit terpenuhi,” kata Direktur Riset Indikator Politik Indonesia Mohammad Adam Kamil.Hasil tak jauh berbeda ditemukan lembaga survei The Republic Institute yang kemarin melangsungkan quick count. “Sebarannya merata. Baik di wilayah pantura, Arek, maupun Pandalungan,” kata peneliti senior The Republic Institute Sufyanto kemarin.Sufyanto menyebutkan, ada sejumlah faktor yang membuat tingkat partisipasi pemilih belum sesuai dengan target KPU. Salah satunya adalah sosialisasi yang dinilai belum maksimal. “Selain itu, faktor keengganan pemilih untuk menggunakan hak pilihnya juga menjadi penyebab,” ucapnya.Analisis dua lembaga itu tak jauh berbeda dengan kondisi di lapangan. Di Surabaya, misalnya, cukup banyak TPS yang jumlah pemilihnya di bawah 60 persen. Yang masih lumayan adalah partisipasi di TPS yang menjadi tempat sejumlah tokoh sentral nyoblos.

Komentar

VIDEO TERKINI