Awas Jebakan Penyakit Hati Bernama Riya

Mei 18, 2018
Belum ada gambar

SOLO, RAKYATJATENG – Ramadhan menjadi kesempatan bagi umat muslim meningkatkan kualitas ibadahnya. Namun, jangan sampai amalan tersebut malah rusak karena ingin dipuji oleh orang lain. Penyakit hati ini disebut dengan riya. Yakni melakukan amal baik dengan niatan tidak ikhlas karena Allah.Ini ditegaskan dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta Hatta Syamsuddin.“Riya adalah masalah hati. Sehingga kita tidak bisa menghakimi sembarangan dalam masalah ini. Lebih baik justru kita mengevaluasi dan merenungi diri untuk menjauhi hal tersebut,” bebernya.Menurutnya, setan selalu menggoda diri kita untuk beramal agar dianggap hebat oleh orang lain.“Karena ini adalah masalah hati, maka kita tidak bisa sembarangan menghakimi riya kepada orang yang “terang-terangan” dalam beramal,” kata dia.Sebab, dalam Islam dibolehkan beramal dengan terang-terangan, termasuk sedekah sekalipun. Allah SWT berfirman dalam Surah Al Baqarah ayat 271: Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.Salah satu perbuatan riya yang biasa dan tidak sadar dilakukan, lanjut Hatta adalah meng-update status di media sosial. Ini bukan saja berpotensi bahaya dari sisi riya. Tapi, juga menghilangkan keberkahan dan kekhusyukan dalam ibadah.“Bisa dibayangkan jika waktu sahur yang semestinya penuh berkah dan dianjurkan banyak istighfar, jadi sibuk update status. Waktu berbuka puasa yang mestinya memperbanyak doa, harus terganggu dengan update status. Apalagi jika di tengah-tengah ceramah Tarawih atau Salat Tarawih masih sempat update status, tentu akan menghilangkan kekhusyukan dan keseriusan dalam beribadah. Jadi ini juga satu ancaman yang tidak kalah bahayanya dari riya,” bebernya.

Komentar

VIDEO TERKINI