Suka Duka Jamin Jadi Juru Pelihara Museum Situs Patiayam Kudus

Mei 10, 2018
Belum ada gambar

KUDUS, RAKYATJATENG – Mendapat amanah sebagai juru pelihara Museum Situs Patiayam bagi Jamin tidaklah mudah. Mulai dari ekskavasi, rekonstruksi, mengidentifikasi, hingga merawat temuan fosil menjadi tantangannya. Banyak suka dan dukanya.Sikap ramah ditunjukkan Jamin saat dijumpai di Museum Situs Patiayam pada Selasa (8/5) lalu. Saat itu, pria berperawakan tinggi dengan kumis tipis ini tengah mendata fragmen fosil yang telah ditemukan. Meski begitu, dia masih bersedia meluangkan waktu untuk bercengkerama.Jamin bercerita banyak tentang liku-liku sebagai juru pelihara. Dia mengaku, kali pertama bekerja di Museum Situs Patiayam pada 2004. Saat itu dia belajar tentang ilmu arkeolog dan geologi dengan peneliti dari Balai Arkeologi Jogjakarta.”Tiap satu tahun sekali ada ahli dari Balai Arkeologi Jogjakarta yang melakukan penelitian di Patiayam. Lalu, dua tahun sekali dari Balai Pelestarian Situs Purba Sangiran Kabupaten Sragen. Salah satunya peneliti yang mengajari saya yakni Rokus Dampuawe,” kenangnya.Bermula dari itu, pria kelahiran Kudus, 2 Mei 1975, ini mengetahui betapa berharga dan pentingnya sejarah binatang purba. Apalagi dia hanya orang kampung dengan ijazah SMA paket C. Jika ada temuan fosil, dia bersama tim dari Museum Situs Patiayam melakukan ekskavasi atau pengangkatan fosil.Setelah itu, dilakukan pembersihan hingga rekonstruksi untuk menyambungkan fosil agar bisa kembali utuh. Selain itu, juga perlu mengidentifikasi temuan fosil agar diketahui fragmen dan sejarah fosil.”Sampai saat ini sudah ada 6.000 lebih fragmen yang sudah ditemukan. Tapi dari jumlah itu, hanya 4.000 lebih fragmen fosil yang sudah teridentifikasi,” terang pria asal RT 2 RW 4, Desa Terban, Jekulo, Kudus ini.Bapak dua anak ini mengaku, hal yang sulit yakni mengedukasi masyarakat sekitar untuk melestarikan fosil purba. Sebab, masih ada masyarakat yang beranggapan bahwa fosil binatang purba hanya tulang biasa.Agar tulang yang berhasil ditemukan warga tidak dihancurkan, dia membuat program edukasi masyarakat. Dua minggu sekali dia memberi sosialisasi kepada warga bahwa fosil merupakan hasil evolusi alam yang sangat berharga. Sosialisasi itu dilakukan mulai daerah Pati bagian barat sampai Kudus.”Sekarang kesadaran masyarakat terhadap fosil mulai kuat. Beberapa kali ada warga yang menemukan fosil langsung dilaporkan,” ujarnya.Namun, pihaknya tidak bisa memberikan imbalan kepada warga yang berhasil menemukan fosil tersebut. Meski begitu, penemu bisa memperoleh imbalan dari Balai Pelestarian Situs Purba Sangiran. Akhir 2016 lalu juga ada warga yang menemukan dua gading gajah stegodon dan rahang bawah serta memperoleh imbalan Rp 6,5 juta. (JPC)

Komentar

VIDEO TERKINI