Larangan Naikkan Tarif Angkutan Lebaran Dikeluhkan

Mei 8, 2018
Belum ada gambar

WONOGIRI, RAKYATJATENG – Larangan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menaikkan tarif angkutan Lebaran memicu reaksi dari Organisasi Angkutan Daerah (Organda) Wonogiri. Kondisi ini membuat pengusaha angkutan kian terjepit. Apalagi, dengan adanya program mudik gratis, tentu semakin membuat mereka kembang-kempis.Ketua Organda Wonogiri Edi Purwanto mengatakan bahwa kebijakan tidak memperbolehkan menaikkan tarif angkutan saat mudik Lebaran dinilai tidak tepat. Kebijakan tersebut jelas tidak berpihak kepada para operator bus.“Kalau reguler (bus angkutan reguler) diperlakukan begini, apa disuruh berhenti semua?” kata Edi Purwanto, Senin (7/5).Menurut Edi, mudik Lebaran hanya setahun sekali. Momen ini sangat ditunggu-tunggu para operator bus untuk mencari laba guna menutup biaya operasional harian.“Sing diarep-arep setahun pisan untuk menutup pinjaman hanya itu. Lha ini malah dibuat seperti ini,” katanya.Edi mengatakan, para pengelola bus akan mengikuti aturan, asalkan yang dilarang dinaikkan adalah tarif angkutan ekonomi. Dengan begitu, para operator bus masih ada peluang untuk menaikkan tarif di kelas nonekonomi. Tentunya kenaikan ini dengan harga sewajarnya.“Kalau yang ekonomi tidak naik, tidak masalah. Tapi tolong yang non ekonomi bisa tetap sesuai harga pasar,” katanya.Bukan hanya larangan menaikkan tarif saat mudik Lebaran saja yang membuat posisi para operator semakin tersudutkan. Program mudik gratis dari pemerintah mau tidak mau juga mengurangi pendapatan mereka.“Apalagi dengan mudik gratis, kami semakin tidak berdaya,” katanya.Sementara itu terkait persiapan angkutan mudik Lebaran, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Wonogiri memastikan berjalan lancar. Apalagi ada sejumlah pengerjaan jalan di Wonogiri.“Hasil pertemuan kemarin dengan para pihak terkait, pelebaran jalan Selogiri-Krisak harus selesai sebelum Lebaran. Minimal sampai dikeraskan. Kalau sampai diaspal jelas tidak cukup waktunya,” katanya.

Komentar

VIDEO TERKINI