Musisi Semarang Timbul Tenggelam, Mengapa?

April 27, 2018
Belum ada gambar

SEMARANG, RAKYATJATENG – Perjalanan para musisi Semarang terbilang berliku. Sejumlah kelompok band berkarya dalam balutan idealisme. Banyak band baru bermunculan, tetapi gampang tumbang. Mengapa demikian?Para musisi Kota Semarang sebenarnya hingga kini tetap mampu berkarya. Bahkan, grup pendatang baru bermunculan. Tetapi tak satupun grup musik dari Semarang ini, berhasil menembus pasar nasional.Berbeda dengan para pendahulu yang mampu mewarnai kancah musik nasional. Tahun 1975, muncul Nasida Ria, kelompok kasidah legendaris pertama di Indonesia yang mampu bertahan hingga sekarang. Pada 1983 muncul kelompok unik bernama Congrock, yakni kelompok musik inovatif dan kreatif yang menggabungkan keroncong dengan aransemen rock. Era 1990 hingga 2000-an, terangkat dengan grup musik seperti Blue Savana dan Power Slaves. Nama lain yang dikenal dari Semarang adalah Peppi Kamadhatu.”Namun setelah itu hingga sekarang, tidak ada lagi nama grup band asal Semarang yang muncul di lingkup nasional. Tak terdengar lagi suara lantang dari pemusik Semarang, vakum,” kata pengamat musik Semarang, Andi Pratomo, belum lama ini.Musisi Semarang sebetulnya tetap bergeliat di kandang sendiri. Termasuk pemusik yang bergerak secara mandiri atau dikenal sebagai indie. Gairahnya sebetulnya menggebu untuk selalu berkarya. Sebut saja grup band indie OK Karaoke, Lipstik Lipsing, Wiwiek N Friends, Something About Lola (SAL), Sunday Sad Story, Tanpa Nada, Serempet Gudal dan lain-lain. Tetapi mereka belum mampu mengejar para pendahulunya.”Musisi indie yang awalnya kuat, mulai roboh satu per satu. Grup yang bertahan tampaknya karena digawangi pemusik lama yang memiliki semangat kuat,” katanya.Pada era 2000-an beberapa aliran musik banyak mengambil jalur pop hingga elektronik 8bit, sebut saja Hellostereo! Mereka mampu membuat karya dengan baik. Punggawanya Rico Julian sempat menjadi tokoh aliran musik tersebut di kancah nasional.

Komentar

VIDEO TERKINI