Diah K Wijayanti, Sang “Kartini” Asal Semarang Pejuang Budaya

April 21, 2018

SEMARANG, RAKYATJATENG – Diah Kusumawardani Wijayanti, barangkali menjadi satu di antara seribu perempuan yang memiliki niat tulus merawat dan melestarikan budaya bangsa. Perempuan berusia kepala tiga ini mempunyai cara untuk memperkenalkan budaya tradisional kepada generasi muda yakni lewat mengajar.Lewat wadah yang dibangunnya, Yayasan Belantara Budaya Indonesia, perempuan asal Semarang ini mengajarkan kepada anak didiknya seni tari dan musik tradisional. Tujuannya agar anak-anak Indonesia bisa menghargai budaya tradisional. Caranya dengan belajar tari dan musik tradisional.Kisah Diah berawal dari kesedihannya karena budaya lokal semakin tergerus budaya asing. Terlebih Diah melihat pendidikan seni di sekolah masih kurang bergema. Sehingga, dirinya tergerak untuk menghidupkan budaya tradisional.“Yayasan ini saya bangun karena saya peduli akan budaya dan warisan Indonesia. Saya sedih banget kok lihat putri saya sendiri sukanya tari-tari dari luar. Belajar tari dari luar sih boleh-boleh saja, tapi untuk memperkaya tari tradisional Indonesia. Makanya saya ingin sekali anak-anak Indonesia mengenal mencintai budaya dan tradisi Indonesia,” kata ibu dua anak itu di Museum Nasional.Sejak kecil di usia taman kanak-kanak, Diah memang sudah dijejali seni oleh orang tua yang kental dengan budaya Jawa. Maka dari itu, Diah mulai belajar menari sejak balita. Kala itu, Diah belajar tari gamelan Jawa. Perempuan manis itu mengungkapkan dirinya selalu dididik oleh orang tua untuk mempelajari budaya dengan hati.Untuk menularkan semangat mencintai dan menjaga budaya, Diah akhirnya membuat suatu program agar museum banyak dikunjungi. Caranya adalah dengan membuat sekolah tari dan musik secara gratis di sana. Sebagai lulusan arkeologi, Diah ingin museum semakin ramai dicintai pengunjung.“Ternyata hasilnya sangat menyenangkan walaupun awalnya saya pikir ada enggak ya yang mau datang meski saya buat gratis? Karena saat saya buat program itu lagi kencang-kencangnya budaya KPop ke Indonesia. Saya buatlah flyer sebar ke daerah-daerah seputar Senen, terus upload di jejaring media sosial. Sekolah pertama didatangi 100 anak, ditambah 100 dengan orang tuanya. Akhirnya berlanjut ke sekolah tradisional angklung dan gamelan Jawa,” jelas Diah.

Komentar