Ditahan KPK, Anggota DPRD Kota Malang: Saya Dizalimi

April 5, 2018

JAKARTA, RAKYATJATENG – Komisi Pemberantasan Korupsi resmi menahan Anggota DPRD Kota Malang, Sahrawi. Dia ditahan usai menjalani pemeriksaan selama sekitar lima jam lamanya. “Penahanan dilakukan untuk 20 hari pertama mulai hari ini di Rutan Klas I Jakarta Timur cabang KPK yang berlokasi di Pomdam Jaya Guntur,” terang juru bicara KPK Febri Diansyah, di Jakarta, Kamis (5/4).Menanggapi penahanannya oleh KPK, usai keluar dari ruang pemeriksaan 17:55 WIB, dia mengaku dizalimi. Ini karena sama sekali tidak menerima aliran dana terkait suap pembahasan APBD-P Pemerintah Kota Malang Tahun 2015.”Saya itu tidak pernah menerima apa yang dituduhkan mulai dari sebagai saksi sampai tersangka. Tetap saya di BAP, dari awal ya berkaitan dengan aliran dana saya nggak tahu sudah sampaikan ke penyidik. Saksi yang menguatkan saya menerima,” ucapnya.Sahrawi menceritakan, saat hari kejadian penerimaan aliran duit panas tersebut, dia mengaku sedang berada di Madura menikmati hari lebaran.”Apalagi tanggal 14 juli 2015 itu saya pulang ke Madura. Kejadian itu jadi pembagian aliran itu H-1 lebaran itu infonya, padahal H-5 saya sudah pulang ke Madura. Ini memang aneh dan zalim,” jelasnya.Atas adanya fakta tersebut, dia menyatakan KPK tidak memiliki bukti untuk menjeratnya.”Di percakapan handphone tidak ada sama sekali sampai sekarang (terbukti menerima). Bukti jelas pas kejadian saya tidak ada di tempat, ada di luar kota pulang kampung,” tandasnya.Karena merasa tak bersalah, Sahrawi menegaskan siap membuktikan mengenai tuduhan terhadap dirinya. Berbagai cara akan dilakukan dengan berkonsultasi kepada penasihat hukumnya.”Konsul dengan lawyer terkait kezaliman ini, kita buktikan di pengadilan,” tutupnya.Sebelumnya, KPK memang mengagendakan pemanggilan terhadap SAH (Sahrawi), ABH (Abdul Hakim), IF (Imam Fauzi), SL (Sulik Lestyowati), SR (Syaiful Rusdi) dan TY (Tri Yudiani). Namun, hanya Sahrawi yang dapat hadir, maka penyidik KPK akan memanggil ulang para tersangka esok hari (6/5).

Komentar