Kejujuran Bakri Asal Klaten Harumkan Nama Penghulu Indonesia

April 3, 2018
Belum ada gambar

JAKARTA, RAKYATJATENG – Kiprah integritas Abdurrahman Muhammad Bakri sebagai penghulu di Kantor Urusan Agama (KUA) Trucuk, Klaten, Jawa Tengah, yang selalu menolak uang “transpor” dari pengantin, menjadi momentum bagi Kementerian Agama (Kemenag) untuk menunjukkan bahwa aparatur sipil negara (ASN) memiliki integritas tinggi. Meskipun ASN itu berada di golongan rendah, tapi sikap kejujuran itu adalah hal utama yang tidak boleh digadaikan.Selain mampu menolak, Bakri pun tidak sungkan untuk melaporkan penerimaan gratifikasi sebanyak 59 kali ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan, kiprah Bakri telah mengharumkan nama penghulu Indonesia karena rutin melaporkan gratifikasi ke KPK.Menurut dia, nilai penting dari yang dilakukan Bakri adalah konsistensinya mengklarifikasi harta yang didapatkan, apakah itu haknya atau bukan. Meskipun jumlahnya sekitar Rp 4,2 juta. Akan spiritnya merupakan wujud dari kejujuran dan patut diteladani.”Satu hal yang paling pokok dari itu adalah konsistensinya dalam mengklarifikasi harta apakah itu miliknya atau bukan,” ujar Lukman Hakim Saifuddin dalam keterangan persnya, Selasa (3/4).Sebelumnya Lukman Hakim memberikan penghargaan kepada Abdurrahman Muhammad Bakri sebagai ASN berintegritas pada Senin (2/4) malam. Penghargaan itu bersamaan dengan pembukaan Rapat Koordinasi Kebijakan Pengawasan yang diselenggarakan Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemenag.Sementara itu, Bakri mengaku aksi melaporkan gratifikasi ke KPK itu dimulai sejak 2015. Hal itu sejalan dengan kebijakan tentang gratifikasi. Jumlah uang grtifikasi yang dilaporkan itu berbeda-beda. Sebab setiap menikahkan dia diberikan uang berkisar Rp 25 ribu sampai Rp 200 ribu.Dia menerangkan, setiap penghulu itu sebetulnya sudah mendapatkan biaya transportasi dan jasa profesi. Meski tugasnya sebagai penghulu di luar jam kerja dan di luar kantor.Semua itu berasal dari Rp 600 ribu setiap pendaftaran pernikahan. Akan tetapi masih saja ada pengantin atau keluarganya yang memberikan tambahan. “Kalau mau tegas menolak malah tidak baik. Solusinya dilaporkan ke KPK,” kata pria berusia 35 tahun itu.Abdul mengaku komitmen berlaku jujur tersebut dia dapatkan dari kedua orang tua. Mereka berpesan agar selalu bekerja dengan benar. Tindak korupsi yang sudah memprihatinkan di Indonesia, menurutnya dapat dihapuskan mulai dari diri sendiri.”Semoga tetap Istiqomah. Agar tidak ada korupsi ya kita mulai dari diri sendiri,” kata lulusan STAIN Surakarta itu yang sudah mengabdi di Kemenag Klaten selama 13 tahun. (JPC)

Komentar

VIDEO TERKINI