Antisipasi Travel Bodong, Kemenag Larang Smeka Ponzi dan MLM

April 3, 2018

JAKARTA, RAKYATJATENG – Pengusutan kasus Abu Tours mengungkap fakta yang cukup mengejutkan. Perusahaan biro perjalanan itu ternyata mematok biaya umrah hanya Rp10 juta. Dugaan sementara, perubahan harga hingga mencapai belasan juta rupiah ada di tangan agen yang menjadi mitra Abu Tours.Biaya Rp 10 juta untuk perjalanan umrah tentu sangat murah. Jauh di bawah hitungan standar minimal dari Kementerian Agama yang mencapai Rp20 juta. Namun, di lapangan jamaah umrah membayar Rp13 juta hingga Rp17 juta.”Yang ditawarkan memang Rp10 juta per jamaah. Mengapa harga itu bisa berubah. Ada yang Rp15 juta atau bahkan lebih, itu karena permainan agen. Nanti dari agenlah baru ada perubahan harga,” ujar Direktur Jenderal Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Nizar Ali kemarin (2/4).Untuk banderol Rp10 juta saja, kata Nizar, nilainya sudah tak wajar. Uang sebesar itu tidak cukup memberangkatkan jamaah sesuai standar layanan ibadah umrah. “Kebanyakan mereka menerapkan promo murah karena menggunakan skema ponzi dan multilevel marketing (MLM),” imbuhnya.Nizar menambahkan, peraturan baru yang telah diterbitkan Kemenag melarang penerapan skema ponzi dan MLM dalam bisnis layanan umrah. Alasannya, dua skema itu bertentangan dengan nilai-nilai ekonomi yang berbasis syariah.Kesalahan Abu Tours lainnya, lanjut Nizar, tidak bergabung dengan asosiasi atau organisasi travel. Semestinya, organisasi travel itu penting karena memiliki afiliasi dengan Kemenag.”Abu Tours tercatat tak bergabung dengan asosiasi resmi yang diakui Kemenag. Ke depan kami meminta semua travel harus ikut asosiasi. Ini penting untuk memudahkan koordinasi,” katanya.Setelah Abu Tours, Kemenag mengendus tiga travel yang dianggap bermasalah. Hanya, Nizar tidak mau mengungkap identitas travel itu. “Kita tidak boleh sebutkan identitas travel tersebut. Tim kami kini sedang bekerja untuk mengusutnya,” ucapnya.

Komentar