Duta Besar RI Cerita 2 Pangeran yang Dihukum Pancung di Arab Saudi

Maret 25, 2018

Pemilik Sah Hak Hukum Pancung di Arab Saudi Adalah Ahli Waris Keluarga KorbanRIYADH, RAKYATJATENG – Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel menegaskan, pemilik sah dari hak hukum pancung di Arab Saudi adalah ahli waris keluarga korban. Bahkan, pihak kerajaan pun tak bisa membatalkan vonis tersebut jika ahli waris keluarga tak mengizinkan.”Pemilik legal dari hak qisas (hukum pancung) tersebut berada di tangan ahli waris korban, bukan di otoritas Raja atau Putra Mahkota,” kata Maftuh, Minggu (25/3).Dalam catatan sejarah pelaksanaan eksekusi pancung, kata Maftuh, Kerajaan Arab Saudi telah mengeksekusi mati dua pangeran. Eksekusi pertama terjadi pada tahun 1975, yaitu terhadap terpidana Pangeran Faisal bin Musaid bin Abdul Aziz Al Saud dengan cara dipancung karena telah membunuh pamannya, Raja Faisal bin Abdul Aziz Al Saudi.”Kasus eksekusi mati yang kedua terjadi pada terpidana Pangeran Turki bin Saud bin Turki bin Saud Al Kabir, karena menembak mati WN Arab Saudi, Adil bin Sulaiman bin Abdul Karim Al Muhaimid pada November 2012,” kata Maftuh.Maftuh menjelaskan, proses hukum terhadap Pangeran Turki berlangsung cepat, yakni selama kurang lebih 4 tahun. Dan selama rentang waktu tersebut pihak keluarga Pangeran Turki berupaya keras mendapatkan permohonan maaf dari ahli waris dengan menawarkan sejumlah kompensasi diyat/ganti rugi.”Namun ahli waris almarhum menolak sehingga akhirnya pada hari Selasa, (18/10/2016) bertempat di Riyadh Pangeran Turki dieksekusi mati dengan cara dipancung,” katanya.”Hukuman qisas ini la yufarriqu bainn tajirin wa faqirin wa baina amirin wa muwatinin (tidak membedakan mana konglomerat atau orang miskin, mana pangeran atau rakyat jelata),” tambah Maftuh.

Komentar