Pembobolan ATM di Indonesia: Jaringan Internasional, Bank Pelat Merah dan Swasta Rugi Miliaran

Maret 17, 2018

JAKARTA, RAKYATJATENG – Belakangan publik diramaikan dengan pembobolan ATM bank melalui alat perekam data (skimming). Kejahatan itu masih terdengar asing, padahal modusnya sudah cukup lama dilakukan.Ahli Digital Forensik, Ruby Alamsyah mengatakan, modus ini muncul di Indonesia pada 2009.”Modusnya sudah lama. Paling heboh Januari 2010 kejadian di Bali,” ujarnya saat dihubungi, Sabtu (17/3).Adapun pada 2009 terjadi di Bulan Oktober dimana tujuh orang ditangkap Polda Metro Jaya. Sasaran mereka adalah ATM bank swasta terbesar di kawasan Jakarta Barat.Komplotan ini beroperasi sejak Agustus 2009, dan memiliki kaitan dengan jaringan di Toronto, Kanada. Saat itu kerugian nasabah sebuah bank mencapai Rp 5 miliar.”2009 kita sudah identifikasi yakin seratus persen pelakunya orang Bulgaria yang berdomisili di Kanada. Itu kita dapatkan dari hasil percakapan antara pelaku yang ada di Indonesia dengan aktor intelektualnya melalui video conference,” jelas Ruby.Sementara pada 2010, modus skimming ditemukan pada Januari. Pembobolan dilakukan di ratusan ATM, yakni Bali 146 lokasi, Jakarta sekitar 14 lokasi dan lima lokasi di daerah lainnya.Akibat pembobolan ini, Bank Central Asia (BCA) mengalami kerugian sebesar Rp 5,8 miliar.Dari penelusuran JawaPos.com, kejahatan skimming ini juga terjadi pada September 2017.Kala itu, Ditreskrimsus Polda Bali berhasil membekuk dua orang warga negara Bulgaria, Boris Georgiev dan Marian Bogidarof Serafinoff. Tersangka mempelajari modus itu di Jerman.Dari hasil penyelidikan, polisi mengamankan uang tunai sebesar Rp 26 juta. Sedangkan, beberapa rekening Bank di antaranya yang signifikan disinyalir hasil pencurian tersangka, adalah Bank Permata sebesar Rp. 1.504.509.271 dan di dalam rekening CIMB Niaga, sebesar Rp 240 juta dan Rp 90 juta.

Komentar