2 Siswa SMAN 1 Semarang Dikeluarkan, LCKI: Harus Lanjut Sekolah

Maret 16, 2018

SEMARANG, RAKYATJATENG – Kasus yang menimpa siswa SMA Negeri 1 Semarang, AF dan AN membuat Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) prihatin. Salah satunya adalah dikeluarkannya dari sekolah lantaran diduga melakukan kekerasan terhadap juniornya saat pelaksanaan kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) pada November 2017 lalu.Ketua LCKI Kota Semarang Doni Sahroni mengatakan, dalam kasus ini seharusnya stakeholder atau pihak terkait yang menangani kasus tersebut menggunakan pendekatan konselor, yakni tidak serta merta langsung mengeluarkan kedua siswa tersebut. Hal ini perlu dilakukan demi menyelamatkan masa depan mereka sebagai peserta didik.”Ini untuk dapat melanjutkan masa depan sekolahnya. Jadi jangan sampai generasi bangsa ini yang kita tidak tahu masa depanya itu terputus di tengah jalan,” katanya saat ditemui di acara Organisasi Masyarakat (Ormas) Expo 2018 di DP Mall Semarang, Jumat (16/3).Tidak adil, lanjutnya, karena masalah ini berdampak pada psikologis dan sosial serta masa depan yang bersangkutan. Mengingat status mereka sebagai siswa kelas XII sedang menyambut persiapan Ujian Nasional (UN).”Pernyataan kita jelas, kita konsen bagaimana menyelamatkan anak didik untuk bisa melanjutkan sekolah. Kita berharap bahwa siapapun pihak-pihak yang ada disitu untuk tidak mempermasalahkan ke ranah yang lebih besar lagi. Kalau toh mau dilanjutkan nanti setelah mengikuti ujian nasional,” ungkapnya.Jika kasus tersebut terus bergulir, pihaknya khawatir beban mental siswa akan semakin besar. Oleh karena itu ia berharap, semua pihak yang ada didalam permasalahan tersebut harus menahan diri, dan lebih memikirkan masa depan mereka.”Beban mental yang dirasakan sangat berat, ujian nasional sebentar lagi sekarang bagaimana caranya agar kedua anak itu dapat fokus lagi dalam menghadapi ujian nasional. Harusnya itulah pemimpin-pemimpin yang ada di kota semarang untuk memperhatikan hal itu,” tegasnya didampingi Dewan Pembina LCKI Kota Semarang, Arnaz Agung Andrasmara dan sejumlah pengurus.

Komentar