Relawan SS-IF Gelar Diskusi Kupas Pendidikan di Jateng

Maret 8, 2018

SEMARANG, RAKYATJATENG – Relawan SS-IF yang tergabung dalam Tim Perjuangan Merah Putih kembali menggelar diskusi tematik reboan. Diskusi bertema pendidikan itu digelar di Markas Perjuangan Sudirman Said-Ida Fauziyah, Jalan Pamularsih Semarang, Rabu (7/3).Pada kesempatan diskusi season#6 yang bertema “Meneropong Masa Depan Melalui Pendidikan (Mengurai Persoalan dan Solusi Pendidikan Jawa tengah)” itu, hadir sebagai narasumber adalah anggota Komisi E DPRD Jateng Muh Zen Adv dan Ketua PGRI KSPI Jateng Tri Widodo M Pd.Butir persoalan pendidikan yang menjadi sorotan berkaitan dengan tenaga pendidik, regulasi dan sistem pendidikan. Terkait persoalan tenaga pendidik, Tri Widodo mengungkapkan, persoalan tenaga pendidik masih berada di seputar persoalan yang tetap, yaitu berkaitan dengan persoalan primordialisme dan pragmatisme.”Persoalan primordialisme mencakup tanggung jawab dan panggilan jiwa seorang pendidik. Sedangkan persoalan pragmatisme mencakup kesejahteraan yang tak berbanding lempang dengan beban dan tanggung jawab seorang pendidik. Padahal, tenaga pendidikan PNS maupun Honorer dibebani seabrek tuntutan kecakapan sama, profesionalitas, wawasan luas dan linieritas,” katanya.Sementara itu Muh Zen Adv mengatakan, pendidikan memang belum menjadi skala prioritas bagi kebutuhan dasar minimal. Lebih jauh Zen mengungkapkan, tuntutan profesionalitas dan linieritas membuat tenaga pendidikan dikotak-kotakkan menjadi banyak kategori, sementara tugas dan tanggung jawab tidak berbeda.”Persoalan lain yang kerap terjadi di ranah institusi pendidikan menurut Zen berkaitan dengan adanya anggapan stereotip terhadap institusi pendidikan swasta yang kemudian melahirkan sikap dikotomi dan membuat disparitas tajam antara institusi swasta dan negeri,” katanya.Lebih jauh ia katakan, ada ketidakadilan dalam penyelenggaraan pendidikan antara institusi negeri dan swasta. Pembangunan sarana dan prasarana-swasta urusan masyarakat, negeri urusan pemerintah-tidak sama tapi output pendidikan dituntut sama.

Komentar