Inilah yang Dilakukan JK dalam Bantu Upaya Perdamaian di Afghansitan

RAKYATJATENG – Pemerintah Indonesia mengambil peranan nyata untuk membantu perdamaian di Afghanistan. Wakil Presiden Jusuf Kalla datang langsung ke negara yang pernah mengalami konflik berkepanjangan hingga 40 tahun itu kemarin (28/2).
JK dipercaya menangani Konferensi Proses Kabul ke-2 yang membahas perdamaian Afghanistan. Dia menuturkan Indonesia berkomitmen kuat untuk membantu perdamaian di Afghanistan. Semua demi kemanusiaan. Karena konflik itu membuat siapapun menderita.
“Merobek persatuan masyarakat dan menghambat menghambat pembangunan sosial dan ekonomi. Karena konflik tidak pernah menguntungkan siapapun,” ujar JK.
Pria 75 tahun itu menceritakan kondisi keberagaman yang ada di Indonesia. Terdiriatas 700 kelompok etnis atau suku dan lebih dari 340 bahasa daerah membuat Indonesia tetap bisa bersatu. Meskipun ada beberapa konflik horizontal yang bisa dengan segera diselesaikan. JK memang terlibat dalam proses perdamaian di Aceh, Poso, dan Ambon.
”Alhamdulillah, kami mampu mengatasi tantangan dan konflik dan kami merasa terhormat untuk berbagi pengalaman ini,” paparnya.
Dia pun memberikan beberapa prinsip utama dalam membawa perdamaian di dalam negeri. Bahwa perdamaian, kata dia, tidak bisa dibiarkan begitu saja setelah perjanjian damai, tapi harus dipupuk dengan rasa saling percaya oleh orang-orang di semua tingkatan.
Selain itu, perlu pula membangun komitmen yang kuat dan solid dari semua elemen masyarakat untuk menegakkan prinsip saling menghormati dan pengertian dan membangun dialog.
“Inklusivitas dalam membangun perdamaian sangat penting. Setiap orang Afghanistan adalah elemen kunci dan harus menjadi bagian dari solusi. Suara setiap orang Afghanistan harus didengar,” kata JK.
Dia menuturkan inklusivitas memupuk rasa saling memiliki. Selain itu juga berbagi tanggungjawab terhadap perdamaian setelah lepas dari konflik. Agar perdamaian itu bertahan lama, perlu membangun rasa saling percaya diantara masyarkat.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan peran penting dari para ulama dalam memerlihara perdamaian. Bagi Indonesia, ulama adalah salah satu juru pemelihara perdamaian. Mereka terus menerus menyosialisasikan nilai dan prinsip toleransi dalam Islam sebagai berkah bagi semua.
Pada forum tersebut, Indonesia juga diminta untuk menjadi tuan rumah Konferensi Ulama Internasional. JK tanpa ragu menyanggupi permintaan tersebut. “Indonesia percaya bahwa Konferensi Ulama ini akan berkontribusi untuk mengakhiri konflik yang menghancurkan,” ucapnya.
Di Afghanistan, JK mengunjungi Indonesia Islamic Center (IIC). Disana, JK selain melakukan Grounbreaking Klinik IIC dan melakukan sholat sunah. Dia juga berdialog dengan Majelis Ulama Afghanistan dan komunitas warga negara Indonesia yang tinggal di Afghanistan.
Kemudian, selesai rangkain acara di IIC, Wapres menempatkan singgah ke KBRI Kabul. Lalu kembali ke Istana Sarai untuk persiapan jamuan santap malam dengan Presiden Ashraf Ghani kembali. (JPC)