Benarkah Sering Makan Pedas, Lidah dan Kerongkongan jadi Rusak?

Maret 1, 2018
Belum ada gambar

RAKYATJATENG – Bagi para pencinta makanan pedas, hidup terasa hampa jika tidak menyantap makanan tanpa lauk-pauk yang pedas, atau tanpa kehadiran cabai dan sambal. Meski konsekuensinya adalah keringat yang mengalir deras, atau mulut terasa panas dengan sensasi terbakar, tetap saja makanan pedas sangat digemari.Bahkan, banyak para penggila cabai yang membeli dan mencoba varian cabai yang diklaim super pedas.Senyawa utama yang memberi rasa pedas pada cabai adalah fitonutrien yang bernama capsaicin. Menurut dr. Karin Wiradarma, capsaicin merupakan zat yang dapat merangsang serabut saraf di dalam mulut dan lidah. Zat ini juga yang menyebabkan Anda bisa merasakan sensasi nyeri (pedas).Tingkat kepedasan pada cabai berbeda-beda, tergantung pada jumlah senyawa capsaicin yang terkandung. Untuk mengetahui tingkat kepedasan jenis cabai, para penggila cabai mengacu pada skala Scoville, yang memberi peringkat varietas cabai berdasarkan konsentrasi capsaicin yang dimiliki tiap cabai.Skala ini berkisar dari cabai standar yang tidak mengandung capsaicin, hingga cabaiyang diklaim paling pedas sedunia, yaitu Trinidad Moruga Scorpion.Bahaya mengonsumsi cabai super pedasDi internet banyak sekali beredar video orang-orang yang mencoba varian cabaiyang diklaim paling pedas, seperti Trinidad Moruga Scorpion atau Carolina Reaper.Menurut ahli gizi Wendy Bazilian, DrPH, seperti dikutip di laman Health, anggapan bahwa cabai dapat menimbulkan kerusakan pada lidah dan/atau kerongkongan adalah mitos belaka. Meski demikian, bukan berarti makanan pedas tidak memiliki dampak buruk.Faktanya, ketika makan makanan super pedas, otak menerima sinyal “rasa sakit” yang dapat mengakibatkan sakit perut, mual, atau muntah. Perut bereaksi seolah-olah Anda makan zat beracun, sehingga perut bekerja untuk mengeluarkan ‘racun’ yang baru Anda makan tersebut.

Komentar

VIDEO TERKINI