Napoli Siap jadi Pengganjal City

November 2, 2017
Belum ada gambar

Kekeliruan itu bisa berimbas pada hasil survei yang bias. Selain metode estimasi, penyebab bias disebabkan error sejak awal atau pada penggalian data. Tuti menyebut tiga penyebab bias tersebut. ”Bisa jadi, sampel yang keliru, rumus yang keliru, atau pertanyaan yang keliru,” ucapnya.Kembali pada sampel, mencari kecenderungan suara untuk pilgub di Jatim, peneliti harus cermat menentukan besar responden. Pendiri salah satu lembaga survei The Republic Institute Sufyanto memaparkan, survei untuk pilgub Jatim idealnya menggunakan 1.200 responden. Berdasar pengalamannya, margin error yang dianjurkan dalam sebuah survei mencapai 3,2–4 persen untuk jumlah sampel responden tersebut. ”Semakin besar jumlah sampelnya, semakin kecil margin error-nya,” paparnya.Yang harus diperhatikan peneliti adalah besarnya sampel yang belum menentukan pilihan. Dalam survei pilgub, biasanya ada responden yang memilih ”tidak tahu” saat disodorkan nama-nama kandidat. Dia menyatakan, hal itu sah-sah saja asalkan tidak melewati batasan tertentu.”Enam bulan sebelum pemilihan, biasanya calon pemilih sudah menentukan pilihan,” katanya. Karena itu, tidak wajar apabila ada lembaga survei yang masih menonjolkan kelompok pemilih gamang alias floating mass dalam hasil surveinya. ”Maksimal 10 persen,” lanjutnya.Agar dominasi floating mass dalam survei tidak besar, peneliti harus pintar-pintar mencari sampel pengganti. ”Kalau memang sampel yang sudah diambil tidak mau menentukan pilihan, kita harus mencari sampel pengganti yang bernilai sama dengan sampel pertama,” ujarnya. Yang jelas, sampel-sampel yang dipilih sebagai pengganti harus valid, tidak boleh dari hasil menerawang atau asal comot.(deb/c16/oni)

Komentar

VIDEO TERKINI