Masalah Kemaritiman Dibedah di Manado

Oktober 19, 2017
Belum ada gambar

MANADO – Besarnya potensi maritim nusantara tak juga mampu dimaksimalkan. Sederet masalah mengadang, membuat banyak pihak perlu angkat bicara.Hal inilah yang menjadi perhatian Institut Lembang 9 (IL9) untuk mengurai benang kusut industri maritim nasional. Melalui Rembuk Nasional Kemaritiman 2017, diharapkan lahir ide-ide terbaik yang akan menjadi solusi bagi pemerintah.“Kita semua sudah paham besarnya potensi laut Indonesia. Namun hingga sekarang belum juga bisa mensejahterakan masyarakat. Pasti ada yang keliru dalam kebijakan,” ujar Ketua Umum IL9, HM Alwi Hamu saat membuka Rembuk Nasional Kemaritiman di Auditorium Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Kamis, 19 Oktober.Menurut Alwi Hamu, di hadapan ratusan peserta yang menghadiri acara ini, adanya moratorium izin penggunaan kapal eks asing dan pemindah muatan laut, justru memukul industri perikanan dalam negeri. Banyak pengusaha yang gulung tikar.“Di Sulawesi Utara misalnya. Para pengusaha ikan di Bitung kini tak bisa beroperasi lagi. Perlu ada solusi agar negara tak rugi, nelayan dan pengusaha tetap bisa mendapat keuntungan,” jelas Alwi yang juga Staf Khusus Wakil Presiden bidang Umum ini.Rektor Unsrat, Prof DR Elene Joan Kumaat menyambut kegiatan berskala nasional digelar di Sulut. Apalagi, saat ini provinsi di daerah paling utara Pulau Sulawesi tersebut merasakan langsung dampak moratorium.“Sebagai tuan rumah dengan senang hati kami menyambut tamu yang datang untuk berembuk dan mencari solusi bagi masalah di bidang kemaritiman. Semoga hasil dari kegiatan ini bisa ditindaklanjuti oleh pemerintah pusat dan kondisi kembali membaik,” ungkapnyaHadir sebagai pembicara dalam Rembuk Kemaritiman ini antara lain mantan Menteri Kelautan dan pengamat kemaritiman, Rokhmin Dahuri dan Didin Damanhuri. (*)

Komentar

VIDEO TERKINI