Melalui Lomba 17-an, Pegiat Wisata Diharap Semakin Kompak

Agustus 22, 2017

RAKYATJATENG, SEMARANG – Walaupun panas terpapar sinar matahari, tidak menyurutkan untuk mengikuti lomba. Meski demikian, tak tersirat sedikitpun rasa lelah.Antusias peserta mengikuti lomba balap karung, balap bakiak, memasukkan pensil ke dalam botol dan makan kerupuk ini, dibuktikan dengan wajah sumringah.“Sudah lama tidak ikut lomba-lomba 17-an seperti ini. Rasanya kangen karena sudah puluhan tahun tidak ikut,” General Manager Hotel Horison Semarang, Adi Danindra di sela morning tea Pegiat Wisata di Hutan Wisata Tinjomoyo, Selasa (22/8).Menurutnya, lomba yang digelar oleh Pegiat Wisata memang simpel. Namun justru mengingatkan pada masa kecil saat mengikuti lomba.Apalagi di tengah padatnya kesibukan, tentu nyaris tak ada waktu untuk mengikuti lomba serupa. Namun dengan digelarnya lomba, setidaknya peserta dapat merefresh diri sekaligus meningkatkan komunikasi dan keakraban satu sama lain.Hal senada juga disampaikan oleh Koordinator Pegiat Wisata, Gus Wahid. Menurutnya, lomba 17-an sengaja dibuat sederhana.Lomba balap karung, balap bakiak, memasukkan pensil ke dalam botol dan makan kerupuk, diyakininya mampu membangkitkan semangat membangun wisata Kota Semarang.“Di balik pelaksanaan lomba yang sederhana terkandung arti kekompakan dalam memajukan dunia pariwisata kota ini,” katanya.Dalam setiap morning tea yang digelar sebelumnya, lanjut dia, selalu dilakukan diskusi termasuk menampung kritik saran dari peserta. Pegiat Wisata diakuinya dapat menjadi jembatan komunikasi dengan Pemerintah Kota Semarang.Sementara Kadisbudpar Masdiana Safitri, mengakui peran dan kinerja komunitas ini cukup teruji. Salah satunya adalah naiknya indeks pariwisata Kota Semarang tahun 2016 di posisi empat mengalahkan Kabupaten Bandung.“Padahal Bandung, selalu jadi jujugan wisatawan. Namun ternyata indeksnya masih kalah dengan Semarang. Kami berharap, imbas positif masuknya wisatawan dapat ditangkap dengan baik oleh pelaku wisata, hotel, biro travel hingga gaet,” ujarnya.

Komentar