Belajar Etika “Investigative Journalism” dari Sheila Coronel

Agustus 13, 2017

Tak sah rasanya seorang jurnalis mengaku sebagai wartawan paripurna bila tak mengenal Sheila Soto Coronel dan sepak terjangnya.

==========================

Oleh: Sukriansyah S. Latief

Wartawan Senior Harian FAJAR

==========================

SHEILA Coronel, perempuan jurnalis asal Filipina, yang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan jurnalisme di Asia, bahkan di belahan dunia ini, khususnya dalam perkembangan investigative journalism. Dia kini memang tak muda lagi.

Sheila Soto Coronel (kiri). (Foto: IST)

Di usianya yang ke-50 tahun, Sheila tidak lagi turun ke lapangan mencari fakta dan “membongkar” dokumen. Sekarang dia lebih banyak “bergaul” dengan buku dan mahasiswa pascasarjana di Universitas Columbia, New York, Amerika Serikat.Sejak 26 Desember 2006, dia diangkat menjadi Director of The Stabile Center for Investigative Journalism di kampus tersebut. Dia pun sudah bergelar Professor of Professional Practice.Saya pertama kali bertemu Sheila di Malaysia ketika mengikuti course on advantage reporting yang diadakan SEAPA, 18-20 Juli 2002. Ketika itu, dia masih amat bersemangat memberikan materi tentang investigative reporting kepada puluhan jurnalis dari Asia Tenggara. Menurutnya, ketika itu, bukan sebuah karya jurnalistik investigative reporting bila jurnalis tidak mengungkap fakta yang disembunyikan atau “membongkar” dokumen dan hasilnya bisa mengubah pandangan masyarakat, misalnya yang benar adalah A, bukan B seperti yang selama ini umum diketahui. Dan yang lebih penting adalah, liputan itu mempunyai dampak atau pengaruh yang lebih baik bagi masyakarat.Begitulah Sheila. Ketika bertemu kembali Jumat, dua pekan lalu, di tempat kerjanya 604F, sebuah ruangan yang tak begitu luas di kampus Univeristas Columbia, dia tampak sedikit lebih tua, tapi tetap semangat menerima saya dan jurnalis dari TV One, Metro TV, serta Batam News. Sheila kembali bercerita tentang investigative journalism, tapi lebih banyak di ranah akademik, dan masalah etika yang sering diabaikan jurnalis. Dia juga mengenang ketika beberapa tahun lalu ke Makassar. Masih kuat dalam ingatannya, pisang epe di sepanjang Pantai Losari, dan nikmatnya makan ikan bakar di Makassar.

Komentar