Apa Keuntungan Memangkas Angka Nol di Rupiah? Ini Penjelasannya…

Juli 27, 2017

FAJAR.CO.ID – Rencana pemerintah melakukan redenominasi atau penyederhanaan nilai rupiah menuai dukungan dari banyak kalangan. Kali ini datang dari pelaku usaha, termasuk importer dan eksporter. Berikut sejumlah keuntungan redenominasi:Pertama, secara bisnis, redenominasi dengan memangkas angka nol memang membuat pencatatan transaksi perdagangan lebih sederhana. Dengan alasan itu, importer memberikan dukungan.“Itu kan program lama, kita dukung,” ujar Ketua Badan Pengurus Pusat Gabungan Importer Nasional Seluruh Indonesia (Ginsi) Anton Sihombing, kemarin (26/7/2017).Anton menjelaskan, tahapan redenominasi harus dilakukan dengan hati-hati dan mengutamakan kepentingan publik maupun pelaku usaha.Sebab, sebagai importer tentunya memiliki mitra bisnis dan banyak melakukan transaksi menggunakan mata uang dolar maupun rupiah.Karena itu, diperlukan pemahaman menyeluruh tentang redenominasi. “Yang penting jangan dadakan, harus cukup sosialisasi,” katanya.Kedua, memperkuat stabilitas rupiah.Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno, kebijakan redenominasi sebenarnya tidak memiliki dampak signifikan bagi eksporter. Namun, dia mendukung program yang bisa memperkuat stabilitas rupiah itu. “Yang penting disosialisasikan dengan baik,” ujarnya.Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Roy Mandey menganggap redenominasi tidak banyak berpengaruh jika pemotongan hanya dalam konteks angka, bukan nilai.”Dampak psikologisnya saja yang harus dijaga, solusinya adalah dengan melakukan edukasi dan kampanye,” tambahnya.Kata Roy, perlu ada asistensi dan mentoring terhadap pelaku usaha terkait accounting. Jangan sampai ketika redominasi dilakukan, akan menimbulkan kebingungan seperti untuk laporan keuangan atau laporan pajak.Ketiga, mempengaruhi psikologis orang untuk belanja lebih banyak.Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Bidang Kebijakan Publik, Danang Girindrawardhana, melihat ada manfaat besar yang bisa didapat dari redenominasi. Dia memprediksi bahwa dampak redominasi akan lebih terasa di ranah internal atau di Indonesia sendiri.

Komentar